Stasiun Luar Angkasa Lakukan Lebih Dari 750 Investigasi Ilmiah selama 2025
- 22 Mei 2026 14:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lebih dari 750 riset di International Space Station hasilkan inovasi penting di bidang kesehatan, material, dan energi.
- Teknologi bedah robotik, bioprinting, dan material tahan radiasi mendukung misi jangka panjang ke Bulan dan Mars.
RRI.CO.ID, Washington - NASA mengungkapkan capaian-capaian riset di International Space Station sepanjang tahun 2025. Penelitian di laboratorium luar angkasa tersebut dinilai tidak hanya mendukung eksplorasi Bulan dan Mars, tetapi juga bagi Bumi.
NASA mencatat lebih dari 750 investigasi ilmiah dilakukan selama 2025. Salah satu penelitian yang menjadi sorotan adalah uji coba sistem bedah robotik mini di lingkungan mikrogravitasi.
Penelitian tersebut menunjukkan prosedur medis jarak jauh tetap dapat dilakukan secara presisi di luar angkasa. Kendati demikian, masih terdapat jeda komunikasi dari Bumi.
NASA juga menyoroti penelitian bioprinter 3D berbasis levitasi magnetik yang digunakan untuk membentuk struktur jaringan tulang sintetis. Hasil eksperimen menunjukkan sampel tersebut memiliki kemampuan regenerasi jaringan yang lebih baik dibandingkan di Bumi.
Kemudian, NASA menguji ketahanan material pelindung radiasi di lingkungan luar angkasa selama enam bulan. Material berbasis melanin jamur menunjukkan ketahanan radiasi paling tinggi dan berpotensi digunakan sebagai pelindung bagi astronaut.
Di sektor energi, mereka berhasil menguji baterai lithium ion solid-state di luar angkasa selama 434 hari. Penelitian ini dilakukan bersama JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency).
Hasilnya, baterai tetap stabil dengan penurunan kapasitas hanya sekitar dua persen. Sehingga dinilai cocok untuk mendukung misi ke Bulan dan Mars.
NASA juga terus mempelajari dampak penerbangan luar angkasa terhadap kemampuan astronaut setelah kembali ke Bumi. Studi simulasi pendaratan menunjukkan adanya penurunan kemampuan navigasi dan kontrol pesawat setelah misi jangka panjang.
Penelitian lain dilakukan oleh European Space Agency terkait fenomena listrik di atas badai petir, seperti sprites dan blue jets. Penelitian ini dinilai dapat meningkatkan pemahaman mengenai atmosfer atas sekaligus membantu pengembangan sistem prediksi cuaca ekstrem dan komunikasi satelit.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....