Implan Tulang Titanium Antibakteri Kurangi Ketergantungan Impor
- 19 Mei 2026 10:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN terus memperkuat kemandirian teknologi alat kesehatan nasional melalui pengembangan material implan tulang berbasis paduan titanium.
- Penguasaan teknologi material titanium sangat strategis karena dapat mendukung kemandirian industri alat kesehatan nasional yang hingga kini masih bergantung pada produk impor.
- Kebutuhan domestik terhadap implan tulang terus meningkat dan diperkirakan mencapai 80.000–100.000 keping per tahun. Namun, lebih dari 90 persen produk tersebut masih berasal dari impor.
RRI,CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kemandirian teknologi alat kesehatan nasional melalui pengembangan material implan tulang berbasis paduan titanium. Penelitian ini difokuskan pada pengembangan implan pelat klavikula (clavicle plate) yang lebih biokompatibel, antibakteri, dan berbiaya lebih terjangkau.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Metalurgi BRIN, Cahyo Sutowo, mengatakan, penguasaan teknologi material titanium sangat strategis karena dapat mendukung kemandirian industri alat kesehatan nasional yang hingga kini masih bergantung pada produk impor. “Pengembangan material titanium untuk alat kesehatan bukan hanya soal inovasi material, tetapi juga upaya membangun kemandirian teknologi nasional agar kebutuhan implan medis dapat dipenuhi dari dalam negeri dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya, saat diwawancara Tim Humas BRIN, Rabu 13 Mei 2026.
Menurut Cahyo, kebutuhan domestik terhadap implan tulang terus meningkat dan diperkirakan mencapai 80.000–100.000 keping per tahun. Namun, lebih dari 90 persen produk tersebut masih berasal dari impor.
Di sisi lain, data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan tingginya angka cedera akibat kecelakaan lalu lintas, terutama kecelakaan sepeda motor pada kelompok usia muda. Melihat kondisi tersebut, BRIN mengembangkan paduan titanium tipe beta low-cost sebagai alternatif pengganti material konvensional seperti stainless steel 316L dan Ti6Al4V.
Material ini dikembangkan melalui penambahan unsur molibdenum (Mo), niobium (Nb), besi (Fe), dan tembaga (Cu) untuk menghasilkan sifat mekanik dan biologis yang lebih baik. Cahyo menerangkan, penambahan unsur Cu pada paduan titanium tidak hanya meningkatkan performa material, tetapi juga memberikan sifat antibakteri melalui aktivitas oligodinamik yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan implan.
“Material yang dikembangkan diharapkan memiliki ketahanan mekanik dan korosi yang baik, mudah dibentuk, aman bagi tubuh, serta memiliki kemampuan antibakteri untuk mengurangi risiko infeksi pascaoperasi,” jelasnya. Dalam penelitian tersebut, tim peneliti melakukan berbagai tahapan karakterisasi, mulai dari pengujian struktur mikro, sifat mekanik, ketahanan korosi pada simulated body fluid (SBF), hingga pengujian biokompatibilitas dan aktivitas antibakteri.
Selain pengembangan material, penelitian juga mencakup desain clavicle plate yang ergonomis dan disesuaikan dengan anatomi masyarakat Indonesia. Implan pelat klavikula sendiri merupakan perangkat medis yang digunakan untuk menangani patah tulang selangka.
Cedera ini tergolong cukup umum, terutama akibat trauma langsung pada bahu dan kecelakaan lalu lintas. Penggunaan clavicle plate bertujuan menstabilkan fragmen tulang agar proses penyembuhan berlangsung optimal.
Untuk mendukung pengembangan produk hingga tahap implementasi, penelitian ini juga melibatkan mitra industri, yaitu PT Eka Ormed Indonesia sebagai perusahaan manufaktur dan distributor alat kesehatan. Selain itu, BRIN juga melakukan penjajakan kerja sama dengan tim dokter spesialis ortopedik dari Departemen Medik Ortopaedi dan Traumatologi FK-UI terkait pengembangan desain pelat klavikula yang sesuai kebutuhan klinis dan anatomi pasien di Indonesia.
Menurut Cahyo, riset ini menjadi penting karena mengintegrasikan inovasi metalurgi dengan kebutuhan klinis di lapangan. Melalui pendekatan tersebut, BRIN tidak hanya menghasilkan material baru, tetapi juga mendorong hilirisasi industri metalurgi nasional dan penguatan ekosistem alat kesehatan dalam negeri.
Saat ini, penelitian memasuki tahap pengembangan desain produk dan manufaktur prototipe. Tahapan selanjutnya akan mencakup uji in-vivo, optimasi proses manufaktur, hingga uji pra-klinis dan klinis untuk mendukung implementasi produk implan lokal di sektor kesehatan nasional.
“Harapannya, penelitian ini dapat menghasilkan produk implan pelat klavikula buatan dalam negeri yang kompetitif, aman, dan mampu meningkatkan kemandirian industri alat kesehatan Indonesia,” tutup Cahyo. (aj,rdt/ed: tnt)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....