Penggunaan AI Pelajar Indonesia Capai 95 Persen

  • 10 Mei 2026 01:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Penggunaan AI di kalangan pelajar Indonesia kini mencapai 95 persen. Tingginya penggunaan AI menimbulkan tantangan baru dalam dunia pendidikan.

Salah satu dampaknya adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis siswa. Kondisi ini dikenal dengan istilah cognitive offloading.

Isu tersebut dibahas dalam panel Reimagine Education in the Era of AI di acara The Cornerstone. Forum itu menghadirkan pelajar, praktisi pendidikan, dan pembuat kebijakan.

Perwakilan pelajar, Matahati Sabri mengatakan bahwa banyak siswa kini bergantung pada AI untuk mengerjakan tugas. “Jadinya sekarang sebagian siswa merasa kesulitan belajar mandiri tanpa bantuan teknologi,” ujar Matahati Sabri dalam pernyataan tertulis saat acara EduALL x Indonesia Mengajar - The Cornerstone (Think Deeper for Indonesia's Future), Sabtu, 9 Mei 2026.

Fenomena ini memunculkan perdebatan tentang pembatasan AI di sekolah. Namun, sejumlah narasumber menilai AI tetap harus dimanfaatkan secara bijak.

Najelaa Shihab mengatakan tantangan pendidikan bukan hanya penggunaan AI, tetapi juga kesenjangan akses digital. Menurutnya, guru kini harus menjadi arsitek dan desainer proses pembelajaran di era teknologi.

Anies Baswedan menilai kebijakan pendidikan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, perhatian juga perlu diberikan kepada anak-anak di luar pendidikan formal.

“PKBM dan Karang Taruna sebagai bagian yang tidak boleh diabaikan. Pemerintah juga harus lebih siap menghadapi perkembangan teknologi AI,” ujar Anies Baswedan dalam pernyataan tertulis saat acara EduALL x Indonesia Mengajar - The Cornerstone (Think Deeper for Indonesia's Future), Sabtu, 9 Mei 2026.

Anies mengusulkan pembentukan lembaga khusus untuk mengantisipasi perubahan teknologi. Lembaga tersebut diharapkan menjadi rujukan dalam menghadapi perkembangan AI.

Diskusi ini difasilitasi oleh EduALL melalui acara The Cornerstone. EduALL ingin membantu membentuk generasi muda yang memiliki pola pikir berkembang dan kemampuan berpikir kritis.

CEO EduALL, Devi Kasih, mengatakan acara tersebut dibuat agar anak muda berani menyampaikan pendapatnya. "Seluruh hasil penjualan tiket dan donasi acara kemudian disalurkan melalui Indonesia Mengajar untuk mendukung pendidikan di daerah 3T," ujar Devi Kasih dalam pernyataan tertulis saat acara EduALL x Indonesia Mengajar - The Cornerstone (Think Deeper for Indonesia's Future), Sabtu, 9 Mei 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....