Teknologi Nuklir Dorong Swasembada, BRIN Panen Perdana Padi Varietas Unggul

  • 30 Apr 2026 20:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan panen perdana benih penjenis atau breeder seed varietas padi unggul yang dikembangkan melalui pemuliaan mutasi iradiasi di Subang Jawa Barat. Langkah strategis ini mempertegas peran teknologi nuklir dalam mempercepat swasembada pangan nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan, pemanfaatan teknologi nuklir melalui radiasi sinar gamma bukan lagi sebatas riset di atas kertas, melainkan kontribusi nyata dalam menghadapi krisis pangan global.

"Apa yang kita panen hari ini adalah instrumen kunci untuk mewujudkan target swasembada pangan Presiden Prabowo. Dengan varietas unggul hasil iradiasi, kita bisa meningkatkan indeks pertanaman dan hasil per hektare secara signifikan," ujarnya saat melaksanakan panen di lahan produksi CV Fiona Benih Mandiri Subang, Kamis 30 April 2026.

Menurut Arif, teknologi nuklir memungkinkan para periset untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman secara luas dan aman guna memperbaiki karakter tanaman yang memiliki kelemahan, seperti batang yang terlalu tinggi atau umur panen yang panjang.

“Teknik pemuliaan mutasi dengan iradiasi sinar gamma (Co-60) bekerja dengan cara memberikan dosis energi radiasi tertentu pada benih padi untuk memicu perubahan struktur DNA, kemudian diseleksi secara ketat oleh pemulia. Berbeda dengan Rekayasa Genetika (GMO), hasil mutasi iradiasi tidak memasukkan gen asing, sehingga sepenuhnya aman dikonsumsi dan ramah lingkungan,” tegas Arif.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN Mulyadi Sinung Harjono menjelaskan, kegiatan di Subang difokuskan pada perbanyakan benih penjenis berlabel kuning dengan tingkat kemurnian genetik mendekati 100%.

"Benih penjenis adalah benih murni di bawah pengawasan pemulia langsung. Dari benih inti yang kita tanam ini, akan dihasilkan benih yang secara berjenjang mampu memenuhi kebutuhan ribuan hektare sawah petani di masa depan," ungkapnya.

Menurutnya, proses perbanyakan ini melibatkan tim peneliti dari Pusat Riset Tanaman Pangan yang memantau pertumbuhan secara intensif. Salah satu tahap krusial adalah roguing berupa pembersihan tanaman menyimpang untuk memastikan kemurnian benih tetap terjaga sebelum didistribusikan ke industri perbenihan.

“Karakteristik Unggul Varietas Mutan BRIN yang dipanen memiliki karakteristik spesifik sebagai berikut, Sidenuk (Sintanur Dedikasi Nuklir) memiliki umur sangat genjah (±103 hari), struktur batang kokoh (tahan rebah), dengan potensi hasil mencapai 9,1 ton/ha. Tropiko, Padi Tipe Baru (PTB) dengan potensi hasil tinggi mencapai 10,53 ton/ha, kualitas nasi pulen, serta tahan terhadap hama wereng cokelat. Bestari, Unggul pada jumlah anakan produktif yang banyak dan memiliki toleransi tinggi terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB),” bebernya.

Hilirisasi benih nuklir ini, lanjutnya, dijalankan melalui kemitraan strategis dengan sektor swasta seperti CV Fiona Benih Mandiri dan PT Sipetapa. Melalui skema lisensi Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), BRIN memastikan industri perbenihan nasional memiliki akses terhadap teknologi tinggi ini. Kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium.

"Kami mengapresiasi dukungan mitra industri. Melalui ekosistem perbenihan yang sehat, benih unggul ini akan segera sampai di tangan petani untuk memastikan kedaulatan pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan," pungkasnya. (SBN/ed. ns)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....