Deep-Sea Science Forum Tekankan Pendekatan Multidisipliner untuk Keberlanjutan
- 08 Apr 2026 09:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pendekatan multidisipliner dinilai menjadi kunci dalam menjawab tantangan kompleks di sektor kelautan dan lingkungan, khususnya dalam konteks keberlanjutan, produktivitas, dan pengelolaan sumber daya.
- Pendekatan berbasis sistem, didukung oleh analisis seperti SWOT dan kerangka logis, menjadi kunci dalam merancang kebijakan dan inovasi yang adaptif serta berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pendekatan multidisipliner dinilai menjadi kunci dalam menjawab tantangan kompleks di sektor kelautan dan lingkungan, khususnya dalam konteks keberlanjutan, produktivitas, dan pengelolaan sumber daya. Hal ini disampaikan Prof. A’an Johan Wahyudi, Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, dalam Deep-Sea Science Forum bertema “Toward Deep Sea Mission 2045” yang diselenggarakan Pusat Riset Laut Dalam BRIN bekerja sama dengan Tongji University, Selasa 7 April 2026.
“Melalui diskusi ini, kita melihat pentingnya integrasi antara data, sinyal teknologi, serta strategi jangka pendek dan jangka panjang. Pendekatan berbasis sistem, didukung oleh analisis seperti SWOT dan kerangka logis, menjadi kunci dalam merancang kebijakan dan inovasi yang adaptif serta berkelanjutan,” ujar A’an.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi antara ilmuwan, praktisi, dan pemangku kepentingan sebagai fondasi untuk menciptakan dampak nyata. Menurutnya, pengembangan keterampilan, integritas, serta keberanian membuka ruang pertanyaan baru menjadi bagian penting dalam mendorong lahirnya solusi masa depan.
“Akhirnya, harapan kami forum ini dapat menjadi titik awal untuk aksi nyata, memperkuat kemitraan, serta mendukung tata kelola yang berkelanjutan. Khususnya dalam bidang ekonomi dan kelautan,” katanya.
Dalam forum tersebut, Wu Nan dari School of Ocean and Earth Science, Tongji University, memaparkan riset berjudul “Cenozoic Tektono-Stratigraphic Evolution of the Tropical Eastern Sunda Shelf: from Tectonic to Eustatic Control”. Ia menjelaskan bagaimana pergerakan tektonik dan perubahan muka laut (eustatik) selama zaman Kenozoikum membentuk stratigrafi dan karakter geologi wilayah pesisir timur Sunda.
Penelitian tersebut menyoroti interaksi antara proses tektonik lokal dan global serta dampaknya terhadap kondisi geologi, sedimentasi, dan dinamika pulau tropis. Pemahaman ini dinilai penting untuk perencanaan wilayah, mitigasi bencana, dan pengelolaan sumber daya alam.
Senada dengan Prof. A’an, Wu Nan juga menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner yang menggabungkan data lapangan, teknologi pemodelan, dan analisis laboratorium. Ia menunjukkan bahwa metode hybrid dalam penelitian geologi—yang mengintegrasikan data tektonik dan eustatik—mampu menghasilkan analisis lebih akurat serta meningkatkan kemampuan prediksi perubahan geologi.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pemahaman terhadap sejarah geologi lokal dapat membantu dalam menilai risiko alam dan potensi sumber daya di wilayah tropis, termasuk risiko gempa bumi, tsunami, dan perubahan garis pantai. Wu Nan juga menekankan pentingnya hubungan antara penelitian akademik dan aplikasi industri.
Kolaborasi dengan industri, pemanfaatan teknologi mutakhir, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas. Dan keberlanjutan sektor maritim dan lingkungan.
“Strategi penelitian yang terintegrasi dapat mendukung pengembangan sektor maritim, perencanaan kota pesisir, dan konservasi lingkungan. Dengan demikian, penelitian geologi tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga memiliki dampak praktis yang nyata bagi masyarakat dan industry,” tegasnya. (noor/ed: mfs, tnt)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....