Tingginya Kadar Sulfur Bahan Bakar Rugikan Mesin Kendaraan

  • 08 Apr 2026 08:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tingginya kadar sulfur dengan kerusakan komponen mesin.
  • Standar sulfur bahan bakar Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga Malaysia.
  • Partikel sulfur yang terhirup manusia dapat memicu peradangan organ paru hingga menyebabkan penyakit.

RRI.CO.ID, Jakarta - Eksekutif Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbel, Ahmad Safruddin, menjelaskan kaitan kadar sulfur dengan kerusakan mesin. Ia juga menyoroti dampaknya terhadap efisiensi dan umur pakai kendaraan.

"Kandungan sulfur pada Pertalite sangat tinggi sehingga merusak mesin," kata Ahmad Safruddin kepada PRO3 RRI. Ahmad Safruddin menandaskan bahwa tingginya belerang akan menyumbat injektor serta merusak catalytic converter sebagai penyaring emisi gas buang.

"Kondisi ini mengakibatkan biaya perawatan kendaraan menjadi lebih mahal, karena pemilik harus sering mengganti suku cadang rusak," ujarnya. Di samping itu dirinya membeberkan bahwa standar sulfur bahan bakar Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga Malaysia.

Dia juga menguraikan bahwa partikel sulfur yang terhirup manusia dapat memicu peradangan organ paru hingga menyebabkan penyakit. Menurutnya dampak dari kondisi tersebut adalah penurunan tingkat kecerdasan masyarakat akibat terpapar polusi udara secara masif setiap hari.

Ahmad Safruddin juga menekankan perlunya transisi energi dengan mengoptimalkan pengolahan minyak mentah domestik yang memiliki kandungan belerang rendah. Langkah strategis tersebut diharapkan mampu menciptakan kemandirian energi nasional sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman bahaya polusi udara.

Perang di Timur Tengah sering dipahami sebagai konflik energi, namun, ada ancaman lain yaitu krisis pangan dimulai dari tanah. Tidak hanya untuk bahan bakar minyak, Sulfur juga dibutuhkan sebagai bahan baku pupuk.

Pada 2024, negara-negara Asia menyerap sekitar 35 persen ekspor urea, 53 persen sulfur, dan 64 persen amonia dari kawasan tersebut. Pasokan ini sangat vital, tidak hanya bagi India, Brasil, dan Tiongkok.

Brasil bahkan hampir sepenuhnya bergantung pada impor pupuk, dengan hampir setengah pasokannya melewati Selat Hormuz. Dalam kondisi seperti ini, gangguan distribusi pupuk dapat mendorong petani mengurangi pemupukan, menurunkan hasil panen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....