Startup Antariksa Jepang, Ispace, Tunda Pendaratan Bulan Bersama NASA hingga 2030
- 28 Mar 2026 06:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- ispace menunda rencana pendaratan di Bulan yang didukung NASA hingga 2030.
- Perusahaan asal Jepang tersebut tengah melakukan restrukturisasi strategi menyusul dua misi pendaratan yang gagal.
RRI.CO.ID, Tokyo – Perusahaan rintisan antariksa asal Jepang, ispace, menunda rencana pendaratan di Bulan yang didukung NASA hingga tahun 2030. Penundaan ini terjadi setelah perusahaan melakukan restrukturisasi strategi menyusul dua misi pendaratan sebelumnya yang tidak berhasil.
Mengutip The News Internatonal, ispace sebelumnya menargetkan peluncuran layanan Commercial Lunar Payload Services (CLPS) bersama NASA pada 2027. Namun, jadwal tersebut kini mundur sekitar tiga tahun.
Ispace tengah melakukan konsolidasi pengembangan wahana pendarat Bulan di Jepang dan Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikan Chief Financial Officer ispace, Jumpei Nozaki.
Ia menegaskan, ispace ingin memperkuat perannya dalam program Artemis milik NASA. Ispace, menurut Nozaki, merupakan satu-satunya perusahaan swasta di luar Amerika Serikat yang memiliki teknologi pendaratan di Bulan.
Sebagai bagian dari strategi baru, ispace berencana meluncurkan lima satelit pengorbit Bulan sebelum 2030. Satelit tersebut akan menyediakan layanan telekomunikasi, navigasi, serta observasi permukaan untuk mendukung pengembangan infrastruktur di Bulan.
Perubahan strategi ini diperkirakan memerlukan tambahan pendanaan hingga jutaan dolar. Pihaknya berencana melakukan pengurangan karyawan dari sekitar 300 pegawai global yang tersebar di Jepang, Amerika Serikat, dan Luksemburg.
Sejak melantai di bursa saham Tokyo pada 2023, ispace menghadapi sejumlah tantangan. Termasuk dua kegagalan pendaratan di Bulan, kerugian finansial, serta penurunan harga saham.
Misi ketiga perusahaan dijadwalkan berlangsung pada 2028. Mereka menginisasi program ruang angkasa komersial pemerintah Jepang menggunakan pendarat “Ultra”, yang mampu membawa muatan hingga 200 kilogram.
Hingga kini, hanya Intuitive Machines dan Firefly Aerospace asal Amerika Serikat, yang berhasil mendaratkan wahana di Bulan. Penundaan ini menunjukkan besarnya tantangan di tengah percepatan program eksplorasi Bulan oleh Amerika Serikat serta persaingan dari Tiongkok.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....