Akademisi Sebut 'Bit Arrangement' Mampu Hidupkan Visual Manusia Purba

  • 07 Mar 2026 11:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Akademisi Universitas Gunadarma, Widyo Nugroho menilai teknik Bit Arrangement menjadi pendekatan baru memvisualisasikan kehidupan manusia purba secara mendalam. Metode ini tidak hanya menampilkan bentuk fisik fosil, tetapi juga membantu memahami konteks kehidupan manusia pada masa lampau.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan rekonstruksi manusia purba dilakukan secara lebih utuh. Tidak sekadar menghadirkan bentuk tubuh, tetapi juga menggambarkan bagaimana mereka hidup, dan beradaptasi dengan alam.

"Bagaimana kita tidak sekadar memvisualisasikan bentuk tubuh fosil, tetapi juga berusaha memahami kondisi eksistensinya. Cara mereka hidup, ketakutan, hingga adaptasinya terhadap lingkungan," katanya saat menghadiri Seminar Ilmiah – Eksibisi Karya: Menghidupkan Fosil Manusia Purba Menggunakan Bit Arrangement di Museum Arkeologi Sangiran, Teater Luwes IKJ, Jakarta Pusat, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dalam proses rekonstruksi tersebut, seni peran memiliki peran penting sebagai jembatan antara data ilmiah kemanusiaan. Ia mengatakan, jika sains menyediakan data dan teknologi digital menjadi medianya, maka seni peran memberikan dimensi kemanusiaan.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut dapat mencegah visualisasi manusia purba menjadi sekadar figur mekanis atau objek visual semata. Sebaliknya, rekonstruksi dapat menghadirkan manusia purba sebagai subjek yang memiliki pengalaman hidup dan kesadaran.

"Pendekatan ini mengubah fosil yang semula dipandang sebagai objek mati. Menjadi gambaran manusia hidup secara simbolik, kultural, dan filosofis," ujarnya.

Dalam konteks Bit Arrangement dan rekonstruksi digital, Widyo menilai seni peran juga berfungsi sebagai kerangka interpretasi. Dengan demikian, setiap visualisasi tidak hanya berbasis komputasi data, tetapi juga menjadi hasil pemaknaan manusia terhadap jejak peradaban.

Sutradara Teater, Jose Rizal Manua menilai pendekatan Bit Arrangement dapat memperkaya cara memahami kehidupan manusia purba di museum. Menurutnya, konsep 'bit' sebenarnya telah lama dikenal dalam dunia teater sebagai unit terkecil yang membentuk sebuah naskah drama.

Ia menjelaskan, dalam struktur pertunjukan teater, sebuah naskah tersusun dari beberapa babak, kemudian terbagi menjadi adegan. Setiap bit merepresentasikan emosi atau tindakan tertentu, seperti kemarahan, ancaman, ketegangan, maupun ekspresi lainnya.

"Dalam drama, bit adalah unit terkecil dari naskah. Dari rangkaian beat itulah emosi dan dinamika sebuah adegan terbentuk," ucapnya.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu menggambarkan suasana kehidupan manusia purba secara lebih hidup. Misalnya melalui ekspresi ketakutan, adaptasi terhadap alam, hingga ketegangan dalam menghadapi lingkungan yang masih sangat liar.

Pada masa itu, kata dia, manusia purba hidup sepenuhnya mengikuti hukum alam karena kebudayaan dan teknologi belum berkembang. Oleh karena itu, pendekatan yang menonjolkan ekspresi dan emosi dinilai dapat memperkaya interpretasi terhadap temuan fosil di Sangiran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....