Wajah Baru Pecinan sebagai Simbol Modernitas dan Toleransi Urban
- 06 Mar 2026 08:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membedah dinamika kawasan Pecinan di Indonesia melalui kacamata sosiologi perkotaan dan antropologi. Studi bertajuk “Chinatown Today: Ethnicity Within a Globalized City in Indonesia” ini menawarkan perspektif baru bahwa identitas etnis
Yakni tidak hanya merupakan warisan sejarah, tetapi juga menjadi instrumen yang dinamis dalam strategi pembangunan kota global di Jakarta, Bogor, dan Bandung. Tim peneliti yang terdiri dari Ju Lan Thung, Tine Suartina, dan Paulus Rudolf Yuniarto dari Pusat Riset Kewilayahan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN mengeksplorasi fenomena re-branding kawasan etnis.
Kajian ini dianalisis melalui empat elemen kunci, yaitu karakteristik pecinan, dinamika perkotaan, arah kebijakan pemerintah, serta pergeseran identitas etnisitas. Riset ini menemukan bahwa di era modern, batas-batas fisik Pecinan mengalami rekontekstualisasi akibat interaksi kompleks antara kebijakan pemerintah (top-down) dan adaptasi sosial masyarakat (bottom-up).
Inovasi Tata Kelola Ruang dan Storynomics
Salah satu temuan kunci riset ini adalah penerapan konsep storynomics dalam inovasi pariwisata perkotaan. Di Jakarta, para peneliti BRIN melihat Glodok tidak lagi hanya dikelola sebagai pusat komersial, tetapi juga direkayasa ulang sebagai ruang budaya yang terintegrasi dengan narasi sejarah Kota Tua.
Inovasi ini mengubah persepsi publik dari sekadar kawasan perdagangan menjadi destinasi wisata berbasis narasi identitas yang inklusif. Di Bogor, riset menyoroti peran kebijakan publik dalam memunculkan kembali ‘wajah Tionghoa’ di koridor Suryakencana sebagai aset ekonomi daerah. Sementara di Bandung, tim riset menemukan pola yang lebih cair.
Identitas pecinan tersebar dan lebih mengedepankan toleransi serta aktivitas ekonomi lintas etnis daripada pemisahan geografis yang kaku. Peneliti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Ju Lan Thung, menjelaskan bahwa transformasi kawasan pecinan di kota-kota besar merupakan manifestasi dari adaptasi etnisitas di tengah arus pembangunan kota global yang sangat dinamis.
Menurutnya, Pecinan masa kini adalah produk dari negosiasi panjang antara identitas budaya dan tuntutan modernitas perkotaan. "Pecinan hari ini bukan sekadar pemukiman etnis yang statis, melainkan ruang di mana etnisitas dikonstruksi ulang melalui kebijakan perkotaan untuk menjawab tantangan globalisasi," ujar Ju Lan Thung pada Selasa 3 Maret 2026.
Identitas visual yang muncul di kawasan tersebut adalah hasil negosiasi antara memori sejarah dan kebutuhan ekonomi kreatif masa kini. Sementara itu, periset dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Tine Suartine menambahkan bahwa transformasi ini mencerminkan bagaimana kelompok etnis Tionghoa dan pemerintah kota saling memengaruhi dalam ruang publik.
"Proses ini menunjukkan bahwa etnisitas kini berfungsi sebagai aset simbolik dan ekonomi. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa pelabelan kawasan sebagai 'Chinatown' tidak terjebak pada komodifikasi budaya semata, melainkan tetap menjadi ruang hidup yang inklusif bagi interaksi sosial antar-warga dari berbagai latar belakang," Tine menjelaskan.
Analisis Risiko dan Rekomendasi Kebijakan
Dari sisi akademis, riset BRIN ini memberikan Gambaran sosiologis dan antropologis terkait inovasi pembangunan berbasis etnisitas. Para peneliti menganalisis risiko munculnya kembali ‘segregasi sukarela’ jika pelabelan kawasan sebagai Chinatown hanya berfokus pada aspek komersial dan estetika fisik tanpa memperhitungkan kohesi sosial secara mendalam antar-kelompok masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....