Kelangkaan Memori Flash NAND dapat Sebabkan Perusahaan Bangkrut
- 20 Feb 2026 01:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – CEO Phison, Khein-Seng Pua menilai kelangkaan memori flash NAND dapat menyebabkan perusahaan elektronik konsumen tutup total pada tahun 2026. Klaim ini Ia sampaikan dalam interview bersama Ning Guan dari kantor berita Tiongkok, Era News.
Pada bincang-bincang itu, Pua mengatakan kekurangan memori flash yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah cukup berat bagi perusahaannya. Ia juga menyampaikan bahwa banyak perusahaan-perusahaan telepon genggam dan otomotif memohon kepada pemasok untuk mendapatkan memori flash.
Dia menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan kecil mungkin tidak dapat memperoleh pasokan memori flash sama sekali. “Produk elektronik konsumen telah berakhir dan pasar akan melihat banyak korban di paruh kedua tahun 2026,” ucapnya dalam wawancara Jumat, 13 Februari 2026.
Ia juga mengatakan bahwa tahun ini akan sangat berat. “Jika kuartal pertama tahun ini sangat berat, maka pada akhir tahun, mereka pasti akan melompat dari gedung.”
Bahkan di pasar yang lebih besar, Pua memperkirakan produksi smartphone akan mengalami pemotongan 100 hingga 250 juta unit. Selain itu, pengiriman PC dan TV juga diprediksi akan menurun akibat keterbatasan pasokan.
Secara keseluruhan, itu adalah gambaran yang cukup suram, tetapi ada data yang mendukungnya. Pua mengatakan, salah satu dari tiga pabrik NAND terbesar menagih pembayaran tunai di muka untuk tiga tahun ke depan.
Hal itu belum pernah terdengar di industri memori flash, namun tidak mustahil dalam situasi krisis saat ini. Host Ning Guan bahkan berkomentar, TSMC pun tidak meminta Nvidia, dari semua perusahaan, untuk pembayaran di muka sebesar itu.
Jika setengah dari skenario yang diprediksi benar, krisis flash yang akan terjadi mungkin lebih buruk dari krisis DRAM. Pua mengatakan, modul eMMC 8GB, yang digunakan di berbagai segmen konsumen dan otomotif, naik dari $1,50 menjadi $20.
Kenaikan itu terjadi pada tahun lalu, dan jika itu belum cukup buruk, Pua memperkirakan situasi akan semakin memburuk. Permintaan pasar AI beralih dari pembuatan model ke inferensi, memaksa model tersebut dijalankan untuk menghasilkan konten.
Ledakan penggunaan AI membutuhkan penyimpanan untuk menyimpan konten tersebut. Sehingga, menurutnya, idak ada chip flash yang tersisa untuk perangkat keras di luar pusat data.
Hal ini disampaikan pula oleh Jeff Janukowicz, Wakil Presiden Riset, Solid State Drives dan Teknologi Pendukung – IDC. Menurutnya, pasar memori berada pada titik balik yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan permintaan yang jauh melampaui pasokan.
“Kami melihat banyak perubahan pada keseluruhan pasar. Berdasarkan pandangan kami, ini telah berada pada titik balik yang belum pernah terjadi sebelumnya, permintaan jauh melampaui pasokan.” ucapnya dalam forum daring IDC Rabu, 18 Desember 2025.
Ia menjelaskan, pasar memori secara waktu ke waktu terkenal dengan siklus naik-turun dimana sering terjadi investasi berlebihan. Ini menyebabkan ketidaksenimbungan antara suplai dan permintaan.
Kendati demikian, kelangkaan yang terjadi saat ini berbeda dengan yang pernah terjadi. Menurutnya, ekspansi infrastruktur AI yang terlalu cepat menjadi alasan utama.
“Intensitas dari beban kerja AI ini seakan memberi tekanan sigfinikan terhadap penyimpanan dan ekosistem memori. Dipasangkan dengan kondisi suplier NAND dan DRAM, memperparah ketidaksinambungan ini,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....