GSCWU Undang Yarsi Bicara Resiliensi Ekonomi Era AI
- 10 Feb 2026 07:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - GSCWU mengundang Universitas Yarsi sebagai pembicara konferensi internasional di Pakistan. Agenda membahas resiliensi ekonomi dan bisnis pada era kecerdasan buatan.
Konferensi bertajuk ICEBE&IT 2026 digelar 2-3 Februari 2026 di Bahawalpur, Punjab, Pakistan. Pembicara dari Yarsi adalah Dr Ir Any Setianingrum, dosen Program Magister Manajemen Universitas Yarsi.
Doktor Any mengatakan, ketahanan ekonomi tidak cukup diukur pertumbuhan dan efisiensi. Ia menekankan keseimbangan teknologi dan nilai moral sebagai energi keberlanjutan, serta mengulas paradoks ekonomi digital dan kecerdasan buatan.
“Percepatan teknologi meningkatkan efisiensi namun berisiko memicu ketimpangan dan krisis etika. Oleh karena itu, kelola menentukan arah manfaat teknologi,” kata Doktor Any dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 9 Februari 2026.
Tanpanya, muncul ketidakamanan kerja dan volatilitas pendapatan. Tema konferensi mengangkat perubahan iklim dan resiliensi berkelanjutan.
Peserta membahas bisnis, ekonomi, dan teknologi untuk masa depan berkelanjutan. Doktor Any memaparkan pergeseran global menuju ekonomi kolaboratif dan sirkular.
"Transisi terjadi dari kepemilikan ke berbagi serta dari linear ke sirkular. Sehingga AI sebagai intelligent trust dalam sistem ekonomi,” katanya, menjelaskan.
AI disebut alat penguat transparansi, keadilan distribusi, dan keputusan beretika. “AI bukan pengganti nurani manusia,” ujar Doktor Any.
Ia menyebut indikator baru resiliensi perlu melampaui GDP. Indikator tersebut memasukkan keadilan sosial, tata kelola etis, dan kesejahteraan antargenerasi.
Pendekatan ini menilai sirkulasi nilai dan keberlanjutan jangka panjang. Kehadirannya sebagai keynote speaker atas undangan GSCWU dan co-organizer.
Ia memandang resiliensi sebagai keseimbangan sistemik, bukan sekadar bertahan. Konferensi diselenggarakan Faculty of Business and Management Sciences GSCWU.
Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan kedua yang digelar tahunan. Pembahasan mencakup adaptasi risiko iklim seperti panas ekstrem, kekeringan, dan banjir.
Topik lain meliputi pengembangan teknologi hijau. Sejumlah pembicara internasional hadir dari Arab Saudi, Tiongkok, dan Inggris.
Mereka mewakili keilmuan bisnis, teknologi, dan keberlanjutan. Menjelang penutupan, dilakukan penandatanganan MoU Universitas Yarsi dan GSCWU.
Rektor Yarsi Prof Fasli Jalal hadir daring menyaksikan proses tersebut. Kerja sama diarahkan pada riset bersama serta pertukaran dosen dan mahasiswa.
“Nilai ekonomi bermakna bila beredar etis dan berdampak sosial. Ini yang menjadi hal utama,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....