Medan Magnet Bumi Bantu Partikel Capai Permukaan Bulan
- 12 Des 2025 15:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Peneliti Universitas Rochester menemukan peran medan magnet bumi dalam mengarahkan partikel atmosfer menuju permukaan bulan selama miliaran tahun. Temuan ini menunjukkan proses alami tersebut dapat menyediakan elemen penting yang bermanfaat bagi keberlangsungan misi ruang angkasa.
Ditemukan, bulan tidak sepenuhnya berupa lanskap tandus karena partikel atmosfer bumi turut memenuhi tanahnya melalui proses sangat panjang. Merupakan partikel kecil terbawa angin matahari menuju luar angkasa sebelum akhirnya mendarat dan tersimpan dalam regolith permukaan bulan.
“Dengan menggabungkan data dari partikel yang terawetkan dalam tanah bulan dengan model komputasi. Tentang bagaimana angin matahari berinteraksi dengan atmosfer Bumi kita dapat melacak sejarah atmosfer Bumi dan medan magnetnya,” ujar seorang profesor di Departemen Fisika dan Astronomi dan seorang ilmuwan terkemuka di Laboratorium Energi Laser (LLE) Universitas, Rochester Eric Blackman.
Penelitian ini menunjukkan tanah bulan dapat menjadi arsip kimia yang menyimpan rekam jejak atmosfer bumi sangat lama. Temuan ini juga menegaskan bahwa regolith bulan berpotensi jauh lebih berharga bagi eksplorasi ruang angkasa modern.
Sampel tanah bulan dari misi Apollo memberikan informasi penting terkait kandungan volatil berlimpah pada permukaan bulan tersebut. Analisis menunjukkan adanya air, karbon dioksida, helium, argon, serta nitrogen melampaui jumlah yang dihasilkan angin matahari.
Simulasi komputer dilakukan untuk mempelajari bagaimana atmosfer bumi dapat mencapai permukaan bulan selama rentang waktu panjang. Penelitian membandingkan kondisi bumi awal tanpa medan magnet dengan bumi modern yang memiliki magnetosfer jauh lebih kuat.
“Studi kami juga dapat memiliki implikasi yang lebih luas dalam memahami pelarian atmosfer awal pada planet seperti Mars. Yang saat ini tidak memiliki medan magnet global tetapi pernah memiliki medan magnet serupa dengan Bumi di masa lalu,” kata seorang mahasiswa pascasarjana di Departemen Fisika dan Astronomi, Shubhonkar Paramanick.
Menurutnya, dengan menganalisis evolusi planet dan pelarian atmosfer pada berbagai periode, para peneliti memahami dinamika perubahan lingkungan planet secara. Ia mengatakan proses-proses tersebut menunjukkan bagaimana mekanisme evolusioner membentuk tingkat kesesuaian planet sehingga akhirnya dapat dihuni makhluk hidup.
Dengan menganalisis evolusi planet bersamaan dengan pelarian atmosfer pada berbagai periode, para peneliti dapat memahami dinamika perubahan lingkungan planet secara menyeluruh. Temuan tersebut membantu menjelaskan bagaimana proses-proses tersebut turut membentuk tingkat kesesuaian suatu planet untuk dapat dihuni.
Pertukaran partikel jangka panjang tersebut mengindikasikan regolith bulan menyimpan lebih banyak volatil penting bagi eksplorasi manusia. Elemen seperti air dan nitrogen dapat mendukung keberlanjutan misi berawak tanpa ketergantungan penuh pada suplai dari bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....