Marapu, Harmoni Manusia, Alam, dan Leluhur Budaya Sumba
- 27 Feb 2025 11:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Marapu bukan sekadar sistem kepercayaan, tetapi juga mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan leluhur. Ritual-ritual sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup serta identitas budaya masyarakat Sumba.
Hal tersebut disampaikan Rismawidiawati Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR KKP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saat memandu Webinar Bincang Khazanah dalam pembahasan tentang Ritual Sakral Marapu. Ritual tersebut sebagai warisan keyakinan pengetahuan leluhur, dalam tantangannya di Era Modern yang diselenggarakan PR KKP BRIN, Selasa (25/2/2025).
Mempertegas hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN Herry Jogaswara menyampaikan, pihaknya harus mengenalkan ritual Marapu pada khalayak luas. Di mana, ritual ini dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap adat setempat.
“Saya harap agar warisan leluhur ini tetap lestari di tengah arus modernisasi. Diharapkan juga muncul lebih banyak inisiatif dalam mendokumentasikan, mengembangkan, dan melestarikan kepercayaan serta budaya lokal di Indonesia,” jelasnya.
Wawasan soal Ritual Marapu dibuka pembahasannya oleh Pater Mikhael Molan Keraf, tokoh masyarakat yang juga pendamping Komunitas Marapu. “Dalam kepercayaan Marapu, terdapat satu wujud tertinggi yang tidak boleh disebut namanya secara langsung karena dianggap terlalu kudus. Sebagai gantinya, masyarakat Sumba menyapanya dengan berbagai sebutan seperti Sang Marapu Agung, misalnya dalam metafora Ina Dukka Ina - Ama Dukka Ama atau Ibu dari Segala Ibu, Bapak dari Segala Bapak,” ungkapnya.
Dijelaskannya, kepercayaan Marapu membangun lima dimensi relasi utama yang menjadi dasar harmoni dalam kehidupan. Antara lain relasi dengan Yang Maha Kuasa, relasi dengan Leluhur, relasi dengan alam semesta, relasi dengan sesama, dan relasi dengan diri sendiri.
“Sebagai sistem spiritual, Marapu bukan hanya sebuah agama, tetapi juga pedoman moral yang mengatur kehidupan masyarakat Sumba. Konsep harmoni dengan alam, leluhur, dan sesama menjadi dasar dalam pengambilan keputusan serta tata cara hidup mereka,” jelasnya.
Dia memaparkan, kepercayaan Marapu adalah warisan budaya yang kaya dan memiliki nilai-nilai luhur dalam menjaga keseimbangan hidup. “Dalam era modern ini, keberadaan Marapu tetap relevan sebagai warisan spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa,” katanya.
Halimatusa’diah Peneliti PR MB BRIN menambahkan informasi dengan paparan risetnya tentang Belis dalam Tradisi Leluhur Bumi Marapu: Antara Penghormatan, Negoisasi,dan Kritik Gender. “Dalam riset ini, kami menjelaskan tradisi pernikahan dalam budaya Marapu di Sumba yang memiliki nilai sakral yang mendalam dan salah satu aspek utama dalam pernikahan adat ini adalah belis, yang sering kali diperdebatkan dalam wacana akademik, baik sebagai warisan budaya maupun dalam perspektif ekonomi,” paparnya.
Ia juga menjelaskan tentang belis dalam tradisi pernikahan Marapu yang bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan bagian dari keseimbangan spiritual dan sosial. Dalam kepercayaan Marapu, pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga pengabdian terhadap leluhur serta upaya menjaga keseimbangan kosmis.
“Tradisi belis dalam pernikahan adat Sumba lebih dari sekadar kewajiban adat dan merupakan simbol keseimbangan spiritual, sosial, dan ekonomi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dengan memahami makna mendalam di balik belis, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan,” ujarnya.
Selanjutnya, Peneliti PR KKP BRIN Muhammad Irfan Syuhudi, menjelaskan tentang pengobatan tradisional Marapu di komunitas adat Mbuku Bani, Kodi. Dikatakannya, itu adalah sistem pengobatan yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga menyelaraskan kesehatan dengan keharmonisan alam dan hubungan sosial dalam komunitas.
“Pengobatan tradisional ini menggunakan berbagai medium, baik hewani maupun tumbuhan. Hewan seperti ayam dan babi sering digunakan dalam ritual penyembuhan sedangkan tanaman seperti sirih, pinang, dan air keramat dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Air keramat, yang telah diberkati melalui ritual tertentu, diyakini dapat mengusir energi negatif dan memulihkan kesehatan pasien,” katanya.
Meskipun mengandalkan pengobatan tradisional, jelas Irfan, masyarakat adat Kodi tetap membuka diri terhadap pengobatan medis modern. Jika dalam empat hari pasien tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, mereka dianjurkan untuk mencari bantuan medis lainnya, termasuk berobat ke dokter.
Syamsurijal Peneliti PR KKP BRIN lainnya, mengungkapan risetnya dalam memahami relasi dengan modernitas dan agama-agama besar sebagai tantangan dalam Marapu di Era Modern ini. “Modernisasi telah membawa perubahan signifikan dalam struktur sosial masyarakat Sumba. Dengan meningkatnya akses terhadap pendidikan, teknologi, dan migrasi penduduk, masyarakat Sumba semakin banyak yang beralih ke agama-agama yang diakui secara resmi oleh negara. Perubahan ini menyebabkan semakin berkurangnya jumlah penganut kepercayaan Marapu, sehingga eksistensinya mulai terpinggirkan,” jelasnya.
Dirinya menegaskan, salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergeseran ini adalah kebijakan pemerintah yang mengharuskan warga negara Indonesia untuk menganut salah satu agama resmi. “Kepercayaan Marapu, yang tidak termasuk dalam kategori tersebut kerap menghadapi kesulitan dalam pengakuan administratif. Akibatnya, banyak masyarakat yang secara administratif mencantumkan agama lain meskipun masih mempertahankan praktik Marapu dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Irfan melanjutkan, sejak masuknya agama Kristen dan Katolik ke Sumba melalui misionaris, interaksi antara agama-agama ini dengan kepercayaan Marapu tidak selalu berjalan harmonis. Banyak ritual dan praktik Marapu dianggap bertentangan dengan ajaran agama baru, sehingga mengalami proses asimilasi atau bahkan penghapusan secara perlahan.
“Namun sebagian masyarakat masih mempertahankan dualisme kepercayaan, yakni dengan menjalankan ritual Marapu, sekaligus mengikuti ajaran agama resmi. Fenomena ini menunjukkan adanya negosiasi budaya dalam kehidupan beragama masyarakat Sumba,” tuturnya.
Meskipun menghadapi banyak tantangan, berbagai upaya telah dilakukan untuk melestarikan kepercayaan Marapu. “Salah satunya adalah dengan memperjuangkan pengakuan kepercayaan Marapu sebagai bagian dari agama leluhur yang memiliki tempat dalam sistem hukum Indonesia,” katanya. (Noor/ ed. And, ns)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....