'Landfill Mining' Jadi Solusi Krisis Sampah di Bantargebang

  • 15 Nov 2024 10:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang yang sudah mendekati kapasitas maksimal, menemukan solusi revolusioner melalui teknologi landfill mining. Teknologi ini berhasil mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif, bahkan material berguna lainnya.

Hal ini menawarkan harapan baru untuk mengatasi permasalahan sampah yang makin mendesak di Indonesia. Dan, memang sudah terbukti banyak daerah mengalami krisis TPST.

TPST Bantargebang yang terletak di Tangerang Selatan, saat ini sudah mencapai 97 persen dari kapasitas maksimumnya. Situasi ini memerlukan solusi inovatif untuk mengatasi krisis sampah.

Salah satu solusi yang tengah dikembangkan adalah landfill mining. Solusi ini diperkenalkan Prihartanto, periset dari Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam acara BRIN EnviroTalk (BET) seri 38, Rabu (13/11/2024).

“Landfill mining merupakan terobosan yang sangat menjanjikan untuk mengatasi permasalahan over kapasitas sampah di Bantargebang,” kata Prihartanto. Menurutnya, sejak dimulai pada 2019, teknologi ini telah berhasil mengolah hingga 150 ton sampah per hari, menghasilkan 30 ton bahan bakar RDF (Refuse Derived Fuel) dan 41,5 ton material sejenis tanah.

Keberhasilan ini mendorong peningkatan kapasitas pengolahan. Jumlahnya bisa mencapai 1.000 ton per hari pada tahun 2023.

Alur Proses Pengolahan Galian Landfil pada LM Plant 1000 ton (Foto : Humas BRIN)

Prihartanto menunjukkan salah satu dampak positif yang terlihat adalah tingginya permintaan dari industri semen, yang menjadi konsumen utama RDF. Menurutnya, PT Indocement kini menyerap 550 ton RDF per hari, sedangkan PT Solusi Bangun Indonesia (Holcim) menggunakan 150 ton per hari.

Bahkan, PT Indocement berencana meningkatkan kapasitas penerimaan RDF hingga 3.000 ton per hari. Tentu saja ini menjadi kabar gembira.

Prihartanto juga menjelaskan sampah berusia 16-18 tahun yang terkubur di zona 4B TPST Bantargebang didominasi plastik, material tanah, dan sampah organik. “Komposisi ini memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan,” ia menjelaskan.

Meski demikian, tantangan utama dalam teknologi ini adalah tingginya kadar air dalam material sampah yang digali. Maka, tim peneliti terus mengembangkan metode untuk menurunkan kadar air agar memenuhi standar industri.

Permasalahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia semakin kritis. Sejumlah 14 TPA mengalami kebakaran pada 2023. TPST Bantargebang saat ini menampung sekitar 55 juta ton sampah dengan ketinggian tumpukan mencapai 55 meter.

Maka, Prihartanto menekankan landfill mining bukan hanya berfungsi untuk mengurangi volume sampah. Landfill mining juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif yang dapat mendukung keberlanjutan lingkungan. (hrd/ed: adl, mfs)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....