Aeroponik Jadi Alternatif Tingkatkan Produksi Benih Kentang

  • 16 Nov 2024 18:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Saat ini produktivitas kentang di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan potensi produksinya. Hal ini berbanding terbalik dengan kebutuhan kentang yang terus meningkat.

Meksy Dianawati menyebut salah satu penyebab ketidakseimbangan produksi dan kebutuhan kentang adalah jumlah dan kualitas benih kentang yang masih terbatas. Dia adalah Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dijelaskan Meksy, sistem perbenihan kentang lebih eksis dibanding komoditas lainnya. Itu karena proses dari kultur jaringan lengkap G-0, G-1, G-2 (di rumah kaca), G2, dan G-3 (di lapangan) membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Biasanya proses itu membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mendapatkan benih sebar. Sdanya rumah kaca dan kultur jaringan juga membuat kebutuhan biaya membesar.

Hal ini menjadikan jumlah dan kualitas benih untuk memenuhi kebutuhan benih kentang dan konsumsinya masih terbatas. Nah, untuk meningkatkan produksi benih kentang G0, BRIN mengembangkan riset dengan sistem aeroponik.

Sistem ini merupakan pengabutan (proses menjadi kabut) hara pada akar tanaman. Ini saat prosesnya adalah nutrisi yang berada di tangki ditarik pompa, kemudian disemprot ke akar tanaman kentang, dan nutrisi akan jatuh secara gravitasi ke tangki.

Proses ini berjalan terus-menerus secara kontinu,” ucap Meksy. Hal itu disampaikannya dalam webinar HortiActive #12 dengan topik 'Inovasi Teknologi Produksi Benih untuk Mendukung Ketersediaan Benih Hortikultura Berkualitas', Selasa (12/11/2024).

  • Kenapa Aeroponik Produksinya Bagus?

Bisa dibayangkan oksigen yang terdapat di sini lebih tinggi, efisiensi serapan haranya juga tinggi, terjamin dan dapat diatur. Dengan begitu pertumbuhan vegetatifnya pasti juga bagus.

Namun, harus dikombinasi dengan bagaimana mengatur fase pertumbuhannya. Caranya dengan melakukan induksi pengumbian, baik dari suhu, fotoperiode, nutrisi, maupun hormonnya.

Alhasil nanti produksinya bisa lebih maksimal. Kira-kira 10 kali lipat dibandingkan dengan cara konvensional.

Meksy mengatakan jika sarana dan prasarana aeroponik terbilang banyak. Di antaranya greenhouse, kotak tumbuh, meja tempat untuk hidupnya, tangki dan pompa, alat untuk fertigasi, alat untuk mengatur intermiten, alat sterilisasi, dan AC yang dipasang di dalam tangki agar suhu tetap dingin.

“Tantangan aeroponik adalah investasi tinggi yang meliputi teknologi, listrik, air, dan kebutuhan lainnya. Maka, jika tidak memperhatikan siklus produksinya, pasti akan terasa mahal," ucap Meksy.

"Selain itu juga dibutuhkan SDM yang berpengalaman dan memiliki skill, terutama dalam memahami nutrisi, mesin, dan juga fisiologi tanamannya,” ia menambahkan.

Aeroponik berpotensi sebagai penyedia benih G-0. Perbandingan antara sistem aeroponik dan konvensional secara detail disampaikan oleh Meksy dan tim pada CHILEAN JOURNAL of AGRICULTURAL RESEARCH.

Judul jurnal itu adalah “Microbial antagonism of pseudomonas fluorescens and Bacillus subtilis to overcome Ralstonia solanacearum in fotato seed production with an aeroponic system in Indonesia”. Terkesan rumit, tetapi hasilnya maksimal.

“Perbandingan antara aeroponik dan konvensional terlihat dari jumlahnya yang sudah jelas pasti lebih banyak, dan dari waktu tanamnya menjadi G0 lebih pendek. Itu karena dia bisa langsung menghasilkan G-2, selain itu juga terdapat perbedaan dari segi kualitasnya” katanya.

Dijelaskan Meksy sistem aeroponik di Indonesia sebenarnya sudah lama berkembang, baik secara komersial (penangkar benih, industri benih, dan balai benih) maupun penelitian (perguruan tinggi dan balai penelitian). Namun, berjalannya waktu biasa hanya bagus pada awal musim, kemudian tidak jarang produksinya akan turun, tidak tumbuh, layu, dan akhirnya beberapa penangkar benih kemudian tutup.

“Salah satu yang menjadi alasan sistem aeroponik menurun karena layu bakteri. Hal ini terjadi akibat perputaran nutrisi yang terus menerus dan sekali terkena kontaminasi, maka akan kena terus," ia memaparkan.

"Selain itu juga biasanya aeroponik ini dilakukan di daerah sentra kentang yang memang airnya sering terkontaminasi. Wajar kemudian makin lama menjadikan produksi semakin turun," ujarnya.

"Suhu yang tinggi pun (40 derajat Celsius) akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Di samping suhu, sistem yang masih manual pun akan memengaruhinya," ia menjelaskan.

Sistem aeroponik untuk produksi kentang G0. (Foto: Humas BRIN)

Tim riset aeroponik BRIN awalnya lebih fokus ke penanganan layu pada tanaman kentang. Namun, melalui kegiatan rumah program ORPP 2022, tim riset bisa menghasilkan mikroba antagonisme untuk mengatasi layu bakteri di aeroponik.

Kegiatan ini dilakukan atas kerja sama dengan provinsi Jawa Barat dalam hal mikroba konsorsium, dan kerja sama dengan Universitas Tidar untuk sistem nutrisi sesuai fase pertumbuhan tanaman. Setelah mendapatkan kondisi yang bebas layu, Meksy mengatakan untuk ke depannya akan fokus pada induksi umbi agar jumlah umbinya terus meningkat.

Dirinya mengungkapkan jika untuk mengatasi layu bakteri tidak saja dengan menggunakan mikroba. Namun juga dengan teknologi lain yaitu melalui penggunaan bahan kimia dan pengaturan sistem.

"Selain itu, untuk yang berbasis IoT-nya, kami masih mencobanya, karena ada beberapa kendala terutama dalam hal pemanfaatan listrik yang digunakan pada balai benih kentang di Pangalengan. Pada 2025 kami akan mencoba bagaimana menginduksi umbinya,” Meksy memungkasi. (lnw,ash,dnp/ed:sl,jml)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....