Prancis akan Kirim Kendaraan Lapis Baja ke Ukraina
- 01 Apr 2024 18:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Paris: Prancis akan mengirimkan ratusan kendaraan lapis baja usang dan rudal baru ke Ukraina untuk digunakan dalam perang melawan Rusia. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Prancis, Sebastien Lecornu.
Ia mengatakan bahwa Presiden Emmanuel Macron telah memintanya untuk menyiapkan paket bantuan baru untuk Ukraina. Di antara bantuan itu berupa peralatan militer Prancis yang sudah tua namun masih berfungsi.
"Perintah itu sebagai tindak lanjut. Dari pembicaraan Macron dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, beberapa waktu lalu," kata Lecornu seperti dilansir Reuters, Senin (1/4/2024).
"Tentara Ukraina perlu mempertahankan garis depan yang sangat panjang, yang memerlukan kendaraan lapis baja. Ini sangat penting untuk mobilitas pasukan dan merupakan bagian dari permintaan Ukraina," ujarnya menambahkan.
Dia menuturkan Prancis sedang mempertimbangkan untuk menyediakan ratusan kendaraan pengangkut pasukan garis depan. Sebab militer Prancis secara bertahap sedang mengganti ribuan kendaraan lapis baja yang sudah tua dengan kendaraan pengangkut pasukan multiperan yang baru.
Lecornu menambahkan Prancis juga bersiap untuk mengirimkan sejumlah rudal permukaan-ke-udara Aster 30 baru untuk sistem SAMP/T yang diberikan Paris ke Kiev. Aster 30 dapat mencegat pesawat tempur, drone, dan rudal jelajah dalam jarak 120 km.
"Ukraina mempunyai kebutuhan mendesak akan pertahanan darat-udara yang lebih baik. Rusia mengintensifkan serangannya, khususnya terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil," ucapnya.
Lecornu mengaku telah meminta Badan Pengadaan Pertahanan Pemerintah Prancis atau untuk membuat proposal untuk mempercepat produksi rudal Aster. Rudal itu sendiri diproduksi oleh perusahaan militer Eropa, MBDA.
Rudal Aster juga digunakan di Laut Merah, tempat kapal-kapal Prancis terlibat. Dalam operasi yang dipimpin AS untuk melawan serangan Houthi.
Bulan lalu, Macron mengungkapkan adanya kemungkinan negara-negara Eropa mengirimkan pasukan ke Ukraina. Namun dia menggarisbawahi bahwa tidak ada kesepakatan di kalangan sekutu NATO soal itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....