Retno Marsudi Sebut Miliaran Orang Masih Minim Miliki Akses Air yang Aman
- 06 Okt 2026 15:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi menyoroti masih adanya orang yang tidak memiliki akses terhadap air dan sanitasi yang aman.
- Menlu RI ke-17 itu menyebut, bahkan sebanyak 2 miliar orang diperkirakan masih tanpa akses terhadap air minum yang dikelola secara aman pada 2030.
- Retno menilai, air memengaruhi bagaimana perekonomian tumbuh maupun bagaimana kota-kota berfungsi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi menyoroti masih adanya orang yang tidak memiliki akses terhadap air dan sanitasi yang aman. Padahal menurutnya, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) untuk memastikan ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi berkelanjutan secara global ditargetkan dicapai pada 2030.
“Namun, kemajuan yang ada belum berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tren saat ini, pada tahun 2030 sekitar 3 miliar orang masih akan hidup tanpa akses terhadap layanan sanitasi yang dikelola secara aman,” ujar Retno Marsudi saat menyampaikan pidato kunci pada Indonesia International Sustainability Forum (IISF), Selasa, 6 Oktober di Jakarta.
Menlu RI ke-17 itu menyebut, bahkan sebanyak 2 miliar orang diperkirakan masih tanpa akses terhadap air minum yang dikelola secara aman pada 2030. “Serta, 1 miliar orang masih tanpa fasilitas untuk mencuci tangan dengan sabun dan air di rumah,” katanya menekankan.
Sementara, lima kendala saling berkaitan dan terus menghambat kemajuan untuk mencapai SDG’s memastikan ketersediaan dan pengelolaan air. Serta sanitasi berkelanjutan secara global ditargetkan dicapai pada 2030.
“Pertama, proyek-proyek air secara struktural masih kekurangan pendanaan, kedua, regulasi dan standar sering kali tidak konsisten dan terfragmentasi. Ketiga, para pengambil keputusan sering kali tidak memiliki keahlian teknis dan informasi pasar yang memadai untuk mengidentifikasi permasalahan maupun memperluas penerapan solusi,” kata Retno Marsudi memaparkan.
Kemudian, Retno menambahkan kendala keempat terkait solusi yang telah tersedia, namun solusi tersebut sering kali tidak dapat diterapkan dengan kecepatan yang dibutuhkan. Bahkan, tidak menjangkau pasar yang sebenarnya dapat memberikan dampak terbesar.
“Dan kelima, para pihak yang perlu bekerja sama terlalu sering tidak dapat saling menemukan, memahami, ataupun berkoordinasi satu sama lain. Ketika kita berbicara tentang air, kita tidak sedang berbicara mengenai satu persoalan yang berdiri sendiri ataupun semata-mata persoalan teknis,” ucapnya menekankan.
Di sisi lain Retno menilai, air memengaruhi bagaimana perekonomian tumbuh maupun bagaimana kota-kota berfungsi. Termasuk, tentang bagaimana dunia memproduksi pangan, dan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan iklim.
“Pertanyaannya saat ini bukan lagi sekadar apakah kita menggunakan air atau tidak, namun tentang bagaimana kita menghadirkan solusi pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kota-kota kita, kebutuhan akan air juga terus meningkat, pada saat yang sama, perubahan iklim dan pencemaran semakin menambah tekanan,” kata Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....