Pasar Bambu Global Diproyeksi Capai USD118,3 Miliar pada 2034

  • 04 Okt 2026 21:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pasar produk berbasis bambu global diproyeksikan tumbuh dari USD74 miliar pada 2024 menjadi USD118,3 miliar pada 2034, mencerminkan peluang investasi signifikan di sektor ini.
  • Pertumbuhan pasar bambu global diperkirakan mencapai CAGR 4,8 persen pada periode 2025 hingga 2034, menunjukkan tren positif yang berkelanjutan.
  • Kawasan Asia-Pasifik mendominasi pasar global dengan nilai USD41,5 miliar atau 56,2 persen, menempatkan Indonesia dalam posisi strategis untuk meningkatkan perannya dalam rantai pasok internasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pasar produk berbasis bambu global diproyeksikan meningkat dari USD74 miliar pada 2024 menjadi USD118,3 miliar pada 2034. Potensi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam rantai pasok industri bambu dunia.

Pertumbuhan pasar produk berbasis bambu global diperkirakan mencapai CAGR 4,8 persen pada periode 2025 hingga 2034. Kawasan Asia-Pasifik menjadi pasar terbesar dengan nilai USD41,5 miliar atau 56,2 persen dari pasar global.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan potensi pasar global perlu dimanfaatkan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok bambu. Indonesia memiliki sumber daya bambu yang melimpah dan beragam.

“Potensi pasar global tersebut menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok industri bambu dunia. Indonesia memiliki sumber daya bambu yang melimpah dan beragam sehingga perlu diperkuat dengan pengembangan industri serta rantai pasok,” kata Putu dalam keterangannya yang dikutip RRI di Jakarta, Minggu, 4 Oktober 2026.

Produk berbasis bambu digunakan dalam berbagai sektor dengan komposisi permintaan yang berbeda. Furnitur memiliki pangsa 28 persen, scaffolding 17 persen, engineered bamboo 16 persen, serta pulp dan kertas 13 persen.

Sementara itu, charcoal and activated carbon memiliki pangsa penggunaan sebesar 10 persen. Kerajinan dan tekstil masing-masing mencapai enam persen, sedangkan penggunaan lainnya sebesar empat persen.

China masih mendominasi ekspor produk bambu global dengan pangsa 74,8 persen. Vietnam berada di posisi berikutnya dengan 3,2 persen, sedangkan Indonesia masuk 12 besar dunia dengan pangsa 0,9 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri bambu nasional. Penguatan diperlukan tidak hanya pada industri pengolahan, tetapi juga sisi hulu untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang berkualitas, berkelanjutan, dan terstandardisasi.

Program pembangunan tiga juta rumah per tahun membuka peluang inovasi material bambu lokal. Salah satunya melalui Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) yang prospektif untuk rumah sederhana tipe 36/FLPP dan konstruksi modular.

“Teknologi CBFT memiliki karakteristik ringan, dapat dirakit tanpa alat berat, dan berbasis bahan baku lokal. Pemanfaatannya juga berpeluang memperkuat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam ekosistem konstruksi modular nasional,” ucap Putu.

Penerapan CBFT membutuhkan ekosistem pasokan bahan baku bambu yang berkelanjutan. Putu menjelaskan keterbatasan lembaga penyedia bambu berkualitas dan terstandardisasi masih menjadi tantangan dalam membangun ekosistem pasokan bahan baku.

Kementerian Perindustrian memperkuat sisi hulu melalui Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali. Program tersebut diarahkan untuk menghasilkan SDM industri yang kompeten sekaligus mendukung penjaminan mutu bahan baku.

“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara. Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung SDM yang andal dalam mengelola rantai pasok,” ujarnya.

AKB 2026 telah melalui evaluasi dan penyempurnaan dengan memberikan fokus lebih besar pada penguatan sisi hulu. Peserta merupakan pemasok atau penggiat bambu hulu rekomendasi offtaker yang memiliki akses serta kemampuan memperbaiki tata kelola logistik bambu.

AKB 2025 sebelumnya mencatat sejumlah capaian dalam penguatan rantai pasok bambu. Capaian mencakup kerja sama bahan baku bambu cendani Purworejo-Bandung serta pemetaan dan penanaman Jawa Barat serta Jawa Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....