Rayakan 50 Tahun Hubungan Diplomatik, RI-PEA Targetkan Perluasan Hubungan
- 02 Okt 2026 12:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lebih lanjut, ia menyebut pendidikan, budaya, dan pengetahuan sebagai fondasi penting dalam membangun perdamaian.
- Duta Besar Persatuan Emirat Arab (PEA), Abdulla Salem AlDhaheri menyoroti, hubungan diplomatik RI-PEA yang memasuki usia 50 tahun.
- AlDhaheri menilai hubungan kedua negara tidak hanya merupakan hubungan antarpemerintah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Duta Besar Persatuan Emirat Arab (PEA), Abdulla Salem AlDhaheri menyoroti, hubungan diplomatik RI-PEA yang memasuki usia 50 tahun. Menurutnya, peringatan lima dekade tersebut merupakan momentum untuk membangun tahap baru hubungan kedua negara yang lebih luas.
“Lima puluh tahun bukan sekadar angka dalam sejarah hubungan diplomatik. Lima puluh tahun merupakan tonggak setengah abad bagi persahabatan, kerja sama, interaksi, sekaligus proses membangun kepercayaan antara dua negara dan dua bangsa,” ujarnya dalam seminar budaya bertajuk “Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Peace Forum dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 pada Kamis, 1 Oktober 2026 di Jakarta.
AlDhaheri menilai hubungan kedua negara tidak hanya merupakan hubungan antarpemerintah. Tetapi, juga hubungan antara dua bangsa yang memiliki sejumlah nilai bersama.
Antara lain penghormatan terhadap manusia, pentingnya keluarga dan pendidikan, penghormatan terhadap agama, kebanggaan terhadap warisan budaya. Serta keyakinan bahwa perbedaan dapat menjadi sumber kekayaan dan kerja sama.
Ia juga menyoroti Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo sebagai salah satu contoh nyata hubungan spiritual dan budaya kedua negara. Masjid tersebut, menurutnya, sekaligus menjadi simbol nilai toleransi, hidup berdampingan, kasih sayang, dan perdamaian yang menyatukan kedua bangsa.
Secara khusus, AlDhaheri menekankan perdamaian bukan semata-mata berarti berakhirnya perang. Tetapi, juga mencakup upaya mengatasi akar ketegangan, membuka ruang dialog, membangun kepercayaan, dan melindungi manusia dari dampak konflik.
Lebih lanjut, ia menyebut pendidikan, budaya, dan pengetahuan sebagai fondasi penting dalam membangun perdamaian. Dalam seminar tersebut, ia memperkenalkan buku “Mohamed bin Zayed dan Pendidikan” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Buku ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk mengenal pandangan Presiden PEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Yakni, mengenai pentingnya pendidikan dalam membangun manusia dan mempersiapkan masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....