Sekjen PBB Sebut Tugas dan Mandat UNRWA dalam 'Bahaya'
- 29 Sep 2026 20:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) terus beroperasi di bawah tekanan luar biasa.
- Hampir 400 anggota tenaga kerja UNRWA di Gaza telah tewas, dengan ratusan fasilitas di Wilayah Pendudukan Palestina menjadi "tidak dapat diakses, rusak parah, atau hancur lebur
- Serangan Israel yang terus berlanjut terus membunuh rata-rata empat orang per hari, seperempat di antaranya adalah anak-anak.
RRI.CO.ID, New York - Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) terus beroperasi di bawah tekanan luar biasa. Kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam Sidang Majelis Umum (SMU) PBB, Kamis, 24 September 2026 di New York, Amerika Serikat.
“Hampir 400 anggota tenaga kerja UNRWA di Gaza telah tewas, dengan ratusan fasilitas di Wilayah Pendudukan Palestina menjadi "tidak dapat diakses, rusak parah, atau hancur lebur". Tindakan-tindakan ini sama sekali tidak dapat diterima dan tidak sejalan dengan kewajiban Israel di bawah hukum internasional, termasuk Piagam PBB," kata Guterres dilansir UN News Selasa, 29 September 2026.
Dalam lingkungan yang sangat menantang, katanya, UNRWA menyediakan layanan publik yang esensial bagi warga Palestina. Namun, tugas dan seluruh mandatnya dari Majelis Umum kini berada dalam bahaya.
Hampir dua tahun lalu, Knesset Israel mengesahkan undang-undang yang melarang badan PBB tersebut beroperasi di wilayah Israel. Yang mencakup Yerusalem Timur dan memutuskan seluruh kerja sama antara pejabat Israel dan UNRWA.
Pemerintah Israel menyita dan mulai merubuhkan kompleks utama UNRWA di Yerusalem pada Januari lalu. PBB dan banyak negara menegaskan UU bersifat hukuman disahkan parlemen tersebut melanggar kewajiban Israel di bawah Piagam PBB dan resolusi Dewan Keamanan 2730 tentang perlindungan personel kemanusiaan.
Menurut Guterres, badan tersebut telah dikeluarkan dari pertemuan koordinasi dengan otoritas Israel terkait operasi kemanusiaan di Gaza dan tempat lainnya. Sementara, visa staf tidak lagi diberikan oleh Israel dan para personel telah menjadi sasaran intimidasi.
Ia menambahkan bahwa UNRWA terus menghadapi krisis keuangan yang parah, dengan defisit kas sebesar USD100 juta. Yang menempatkan operasi dalam risiko dan mengancam kesejahteraan jutaan pengungsi Palestina.
Guterres mengimbau Negara-Negara Anggota untuk mengambil tindakan segera. Karena, kapasitas bertindak UNRWA terancam secara serius dan stabilitas regional sedang ditaruhkan.
Ia menyoroti bahwa serangan Israel yang terus berlanjut terus membunuh rata-rata empat orang per hari, seperempat di antaranya adalah anak-anak. Sementara, hukum internasional dilanggar secara terang-terangan.
"Pemulihan bantuan sejak gencatan senjata diumumkan Oktober lalu telah memberikan sedikit kelegaan. Namun kondisinya tetap tidak dapat ditoleransi," kata Guterres.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....