WHO Minta Pendanaan Tambahan untuk Tangani Ebola di Kongo

  • 17 Sep 2026 16:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • WHO meminta para donor memastikan rencana penanganan pemerintah RD Kongo dan respons kemanusiaan mendapat pendanaan penuh karena wabah Ebola masih jauh dari berakhir.
  • Pemerintah RD Kongo mencatat 7.258 kasus terkonfirmasi dan 3.510 kematian. Meski demikian, penularan mulai menurun di wilayah paling terdampak di Provinsi Ituri dan lebih dari 1.700 pasien telah pulih.
  • Lebih dari 3.000 tenaga kesehatan dan pekerja garis depan telah menerima vaksin Ervebo. WHO akan menilai efektivitasnya terhadap virus Bundibugyo melalui studi observasional dan uji klinis.

RRI.CO.ID, Jenewa — Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta para donor memastikan rencana penanganan pemerintah RD Kongo mendapatkan pendanaan penuh. Ia juga meminta pendanaan untuk respons kemanusiaan yang lebih luas, dilansir dari France24, Kamis, 17 September 2026.

WHO melihat tanda-tanda menggembirakan dalam penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Namun, WHO menegaskan wabah tersebut masih jauh dari berakhir dan membutuhkan pendanaan lebih besar.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penularan mulai menurun di wilayah yang paling terdampak di Provinsi Ituri. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan langkah-langkah penanganan mulai memberikan hasil.

Provinsi Kivu Selatan juga tidak melaporkan kasus baru sejak Mei, sementara lebih dari 1.700 pasien Ebola di DRC telah dinyatakan pulih. Tedros mengatakan setelah empat bulan, wabah sebagian besar telah terkendali di wilayah timur laut DRC.

Namun, wabah kecil di Uganda sempat muncul dan berhasil dihentikan dengan cepat. Menurut laporan terbaru pemerintah DRC, jumlah kasus Ebola terkonfirmasi telah mencapai 7.258 kasus.

Sebanyak 3.510 kematian telah tercatat sejak wabah dimulai pada Mei. Lebih dari 7.000 kasus telah dilaporkan di tujuh provinsi hingga 11 September dan telah menyebar ke provinsi ketujuh di DRC.

Sementara itu, lebih dari 3.000 tenaga kesehatan dan pekerja garis depan telah menerima vaksin Ervebo buatan Merck. Vaksin tersebut telah mendapat izin untuk melawan virus Ebola Zaire.

Namun, efektivitas Ervebo terhadap virus Bundibugyo yang menjadi penyebab wabah saat ini belum diketahui. WHO berencana melakukan studi observasional terhadap pekerja garis depan untuk menilai efektivitas vaksin tersebut.

Uji klinis tahap menengah hingga akhir juga diperkirakan dimulai dalam beberapa pekan mendatang. Uji tersebut akan dipimpin Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo bersama sejumlah mitra.

Ervebo akan menjadi salah satu vaksin pertama yang dievaluasi dalam uji klinis tersebut. Penelitian akan mencakup kandidat vaksin lain yang secara khusus menargetkan Ebola jenis Bundibugyo, termasuk kandidat dari Moderna dan Universitas Oxford.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....