UNRWA Sebut 220 Stafnya Tewas di Gaza sejak Perang Hamas-Israel

  • 15 Sep 2026 13:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA mengungkapkan, sejak perang Hamas-Israel dimulai pada Oktober 2023 setidaknya 220 stafnya telah tewas di Gaza.
  • Mitra PBB yang menangani keselamatan dan keamanan melaporkan bahwa operasi militer termasuk serangan udara, penembakan artileri dan tembakan senjata.
  • Saat ini, sembilan dari setiap 10 orang di Gaza mengungsi di dalam wilayah Gaza, termasuk orang-orang yang telah berkali-kali terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA mengungkapkan, sejak perang Hamas-Israel dimulai pada Oktober 2023 setidaknya 220 stafnya telah tewas di Gaza. Terbaru, enam pekerja PBB dan warga sipil tewas akibat serangan Israel di sebuah sekolah yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi keluarga yang mengungsi di Gaza.

Berbagai serangan dinilai sebagai keselamatan staf kemanusiaan, fasilitas, dan operasi bantuan telah secara terang-terangan diabaikan sejak awal perang. KatavTugas Komisaris Jenderal UNRWA, Christian Saunders dilansir dari UN News, Selasa, 15 September 2026.

“Semakin lama impunitas dibiarkan. Semakin hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa menjadi tidak relevan,” ujar Saunders menekankan.

Sejak kesepakatan gencatan senjata yang rapuh pada 10 Oktober 2025, otoritas setempat melaporkan 1.334 orang tewas dan 4.429 orang terluka di Gaza. Menurut badan bantuan darurat PBB, OCHA.

Mitra PBB yang menangani keselamatan dan keamanan melaporkan bahwa operasi militer termasuk serangan udara, penembakan artileri dan tembakan senjata. Serta, tembakan dari kapal angkatan laut terus berlangsung di seluruh wilayah Gaza selama akhir pekan.

Terutama di sebelah barat apa yang disebut “garis kuning”, yang ditetapkan Israel pada awal kesepakatan gencatan senjata. Serangan udara Israel dan serangan lainnya terus menghantam wilayah berpenduduk, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan properti serta memaksa semakin banyak orang mengungsi.

Saat ini, sembilan dari setiap 10 orang di Gaza mengungsi di dalam wilayah Gaza, termasuk orang-orang yang telah berkali-kali terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Kondisi yang terlalu padat, tempat tinggal tidak memadai, terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang aman meningkatkan risiko penularan penyakit menular di Gaza

OCHA menambahkan upaya persiapan menghadapi musim dingin di lokasi-lokasi pengungsian yang padat masih sangat terhambat kekurangan dana dan pembatasan masuknya bahan-bahan penting. Penolakan dan keterlambatan Israel dalam memberikan izin untuk masuknya oli mesin dan suku cadang mengancam layanan air, sanitasi, kesehatan, dan pengelolaan limbah yang bergantung pada generator.

Pada saat yang sama, sekitar satu dari empat orang di Gaza kemungkinan membutuhkan perawatan medis akut dan berkelanjutan. Termasuk pasien dengan luka sangat parah, amputasi, cedera kepala dan sumsum tulang belakang, serta luka bakar, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....