Kemlu RI: Pertemuan Presiden Myanmar-Rusia Tak Pengaruhi Sentralitas ASEAN
- 20 Agt 2026 19:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pertemuan bilateral Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Moskow, Selasa, 18 Agustus, dinilai tidak mempengaruhi Sentralitas ASEAN.
- Indonesia tetap berkomitmen bahwa Lima Poin Konsensus (5PC) menjadi rujukan ASEAN terkait krisis di Myanmar.
- Pertemuan bilateral kedua presiden itu merupakan kewenangan dan hak masing-masing negara.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pertemuan bilateral Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Moskow, Selasa, 18 Agustus, dinilai tidak mempengaruhi Sentralitas ASEAN. Kata Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang dalam konferensi pers Kamis, 20 Agustus 2026 di Ruang Palapa, Jakarta.
“Hal tersebut definitely tidak semerta-merta langsung mempengaruhi sentralitas ASEAN itu sendiri. Bagi kita, bagi Indonesia sentralitas ASEAN means kemampuan ASEAN untuk memainkan peran utama dalam menangani berbagai isu yang berdampak di kawasan kita,” ujar Yvonne menekankan.
Yvonne menyebut, Indonesia tetap berkomitmen bahwa Lima Poin Konsensus (5PC) menjadi rujukan ASEAN terkait krisis di Myanmar. “Dalam hal ini five point consensus akan tetap menjadi rujukan utama ASEAN dalam membantu Myanmar menemukan penyelesaian yang damai dan inklusif juga berkelanjutan,” ucapnya.
Selain menurut Yvonne, pertemuan bilateral kedua presiden itu merupakan kewenangan dan hak masing-masing negara. Terlebih, Rusia juga merupakan mitra dialog ASEAN sejak 1996 dan Myanmar merupakan anggota ASEAN.
“Kita tentunya mencermati pertemuan Presiden Myanmar dan Presiden Rusia dan ini kita ketahui bersama sebagai bagian dari hubungan bilateral kedua negara. Pada prinsipnya hubungan bilateral Myanmar dengan negara-negara mitra itu kan merupakan kewenangan dan hak dari masing-masing negara,” kata Yvonne menambahkan.
Sementara, Presiden Putin menyampaikan komitmen Rusia untuk memperkuat kerja sama dengan Myanmar utamanya di bidang ekonomi. Kemudian, energi juga menjadi sektor yang diperhitungkan Rusia untuk memperkuat hubungan bilateralnya dengan Myanmar.
“Pembangunan bersama pembangkit listrik dan kilang minyak di Myanmar bagian selatan sedang dipertimbangkan. Perusahaan-perusahaan Rusia juga siap berpartisipasi dalam eksplorasi dan produksi hidrokarbon, termasuk di wilayah lepas pantai,” ujar Presiden Putin dalam pidato yang dikutip dari laman Kemlu Rusia.
“Terdapat prospek yang baik untuk mengekspor gas alam cair (LNG) ke Myanmar, baik untuk konsumsi domestik maupun untuk transit ke negara-negara tetangga.”
Di bidang hubungan antarmasyarakat, Presiden Putin menyebut, meningkatnya minat warga Myanmar mempelajari bahasa Rusia. Putin mengungkapkan, kemungkinan sekolah dan universitas di Myanmar untuk bergabung dalam program Russian Teacher Abroad juga sedang dijajaki.
“Saat ini, sekitar 400 mahasiswa Myanmar sedang menempuh pendidikan di universitas-universitas Rusia. Secara keseluruhan, lebih dari 7.000 warga Myanmar telah memperoleh pendidikan di negara kami,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....