Azerbaijan Jadikan Pembersihan Ranjau sebagai Prioritas Utama Pascakonflik
- 25 Jun 2026 22:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Azerbaijan terus menjadikan pembersihan ranjau kemanusiaan sebagai salah satu prioritas nasional dalam upaya membangun kembali wilayah-wilayah yang dibebaskan setelah konflik berkepanjangan.
- Lebih dari lima tahun setelah berakhirnya Perang Patriotik 44 Hari pada 2020, proses pembersihan ranjau masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara itu.
- Berdasarkan data ANAMA, sepanjang 2025 tim pembersihan ranjau berhasil membersihkan lebih dari 69.000 hektare lahan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Azerbaijan terus menjadikan pembersihan ranjau kemanusiaan sebagai salah satu prioritas nasional dalam upaya membangun kembali wilayah-wilayah yang dibebaskan setelah konflik berkepanjangan. Kedutaan Besar Azerbaijan di Jakarta menyatakan ranjau darat dan sisa-sisa bahan peledak perang masih menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga sipil dan proses pembangunan.
Lebih dari lima tahun setelah berakhirnya Perang Patriotik 44 Hari pada 2020, proses pembersihan ranjau masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara itu. Ranjau yang tersebar di berbagai wilayah tidak hanya membahayakan masyarakat, tetapi menghambat rekonstruksi infrastruktur dan kembalinya para pengungsi ke kampung halaman mereka.
“Lebih dari satu juta ranjau darat dan jumlah yang tidak diketahui dari sisa bahan peledak perang masih tersebar di sekitar 12 persen wilayah Azerbaijan. Menjadikan negara tersebut salah satu kawasan yang paling terkontaminasi ranjau akibat konflik di dunia,” kata Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Ramil Rzayev dalam keterangannya Kamis, 25 Juni 2026.
Rzayev menyebutkan sejak November 2020 hingga saat ini, sebanyak 427 orang menjadi korban insiden ranjau darat, yang terdiri dari 73 korban meninggal dunia dan 354 korban luka-luka. Sebagian besar korban merupakan warga sipil yang kembali beraktivitas di wilayah terdampak konflik.
“Sejak 1991, jumlah total korban ranjau telah melampaui 3.500 orang, termasuk sejumlah besar anak-anak dan perempuan. Kondisi tersebut membuat upaya pembersihan ranjau menjadi prasyarat penting bagi pemulihan sosial dan ekonomi di wilayah yang terdampak perang,” ujarnya menambahkan.
Rzayev mengungkapkan, pemerintah Azerbaijan saat ini mengandalkan Badan Nasional Aksi Ranjau Azerbaijan (ANAMA), sebagai institusi utama yang memimpin operasi pembersihan ranjau. Lebih dari 90 persen kegiatan aksi ranjau dibiayai melalui sumber daya nasional sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengatasi dampak kemanusiaan akibat perang.
Berdasarkan data ANAMA, sepanjang 2025 tim pembersihan ranjau berhasil membersihkan lebih dari 69.000 hektare lahan. Selain itu, petugas menemukan dan menonaktifkan lebih dari 52.000 sisa amunisi yang belum meledak, hampir 5.000 ranjau anti-personel, serta lebih dari 1.800 ranjau anti-tank.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi global, Azerbaijan akan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Aksi Ranjau ke-4 di Baku pada 2–3 September 2026. Konferensi yang diselenggarakan bersama ANAMA dan PBB itu akan mempertemukan perwakilan pemerintah, organisasi internasional, lembaga donor, serta para ahli teknis.
Utamanya untuk berbagi pengalaman, membahas teknologi terbaru, dan memperkuat kerja sama dalam aksi ranjau kemanusiaan. Azerbaijan terus mempererat kemitraan dengan ASEAN Regional Mine Action Center (ARMAC) dalam bidang pertukaran keahlian hingga pembangunan berkelanjutan di wilayah terdampak ranjau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....