Dubes Tolchenov: Rusia Siap BerundingDamai dengan Ukraina

  • 25 Jun 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rusia membuka pintu bagi perundingan damai dengan Ukraina dan siap melanjutkan pembahasan.
  • Rusia mengklaim tidak lama setelah dimulainya operasi militer pada Februari 2022, Moskwa dan Kyiv sebenarnya telah berhasil menyusun sebuah rancangan perjanjian damai.
  • Presiden Putin disebut siap melakukan perundingan dengan Ukraina berdasarkan kesepakatan yang dicapai di Anchorage dan Istanbul serta realitas yang ada di lapangan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Rusia membuka pintu bagi perundingan damai dengan Ukraina dan siap melanjutkan pembahasan. Yakni, berdasarkan rancangan kesepakatan yang pernah dicapai kedua negara pada 2022.

Rusia mengklaim tidak lama setelah dimulainya operasi militer pada Februari 2022, Moskwa dan Kyiv sebenarnya telah berhasil menyusun sebuah rancangan perjanjian damai. Kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov dalam press briefing, Rabu, 24 Juni 2026 di Jakarta.

“Pada akhir Maret dan April 2022, Rusia dan Ukraina sudah menyusun kesepakatan damai. Kesepakatan itu bahkan telah diparaf oleh kedua tim negosiasi dan kami hanya menunggu upacara penandatanganan,” ujar Tolchenov menjelaskan.

Rusia menganggap rancangan perjanjian tersebut masih relevan sebagai dasar perundingan. Tolchenov menegaskan Presiden Putin tetap siap berdialog dengan Presiden Zelensky dalam berbagai format, termasuk kemungkinan pertemuan langsung.

“Presiden Putin baru-baru ini menyatakan siap bertemu Zelensky, jika Zelensky datang ke Moskwa. Kami siap untuk dialog dalam bentuk apa pun,” katanya menambahkan.

Menurut Tolchenov, tercapainya perdamaian memerlukan kemauan dari kedua belah pihak. Ia mengungkapkan, Rusia menginginkan kesepakatan damai yang bersifat komprehensif dan berjangka panjang.

“Kami ingin mencapai kesepakatan komprehensif, jangka panjang, dan berkelanjutan yang akan mempertimbangkan semua kepentingan kami. Maksud saya kepentingan Rusia, terkait keamanan nasional kami dan saya telah menyebutkannya berkali-kali,” ucap Tolchenov memaparkan.

“Hal ini mencakup status Ukraina yang non-NATO, non-nuklir, dan non-blok, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia bagi kelompok minoritas nasional di Ukraina. Termasuk warga penutur bahasa Rusia dan etnis Rusia di wilayah Ukraina.”

Presiden Putin disebut siap melakukan perundingan dengan Ukraina berdasarkan kesepakatan yang dicapai di Anchorage dan Istanbul serta realitas yang ada di lapangan. Demikian dilansir Anadolu Agency pada Kamis, 25 Juni 2026.

Rusia dan Ukraina menggelar tiga putaran perundingan damai yang diperbarui tahun lalu di Istanbul pada 16 Mei, 2 Juni, dan 23 Juli. Hal ini menghasilkan pertukaran tahanan dalam jumlah besar serta rancangan memorandum yang menguraikan posisi kedua pihak terkait kemungkinan kesepakatan damai.

Presiden Amerika Serikat (AS) dan Presiden Rusia kemudian bertemu di Anchorage, sebuah kota di negara bagian Alaska, AS. Pertemuan ini menghasilkan rencana perdamaian berisi 28 poin, yang kemudian direvisi menjadi 20 poin.

Di bawah mediasi AS, Moskwa dan Kyiv juga mengadakan tiga putaran perundingan damai pada awal tahun ini, yaitu pada 23–24 Januari, 4–5 Februari, dan 17–18 Februari. Dua putaran pertama berlangsung di Abu Dhabi, sedangkan putaran ketiga diadakan di Jenewa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....