Pembukaan Selat Hormuz Dinilai Untungkan Ekonomi Indonesia
- 20 Jun 2026 08:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ekonom Nilai Pembukaan Selat Hormuz Untungkan Ekonomi Indonesia
- Pembukaan Selat Hormuz Dinilai Untungkan Ekonomi Indonesia
RRI.CO.ID, Jakarta: Ekonom menilai dibukanya kembali arus pelayaran di Selat Hormuz membawa dampak positif bagi perekonomian global maupun Indonesia. Kelancaran jalur perdagangan energi dunia tersebut berpotensi menjaga stabilitas harga energi.
"Lalu dapat meningkatkan efisiensi produksi industri, serta memperkuat daya beli masyarakat. Itu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional," kata Ekonom dan Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, saat berbincang dengan Pro3 RRI, Jumat, 19 Juni 2026.
Rahma Gafmi menilai Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis perdagangan dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas internasional. Ketika jalur tersebut terganggu atau diblokade, dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga energi dan ketidakpastian ekonomi global.
"Ketika Selat Hormuz diblokade dan tidak lancar, dampaknya langsung terasa terhadap ekonomi global maupun domestik. Sebaliknya, ketika jalur ini dibuka dan kembali normal, hal itu dapat mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Menurutnya, stabilitas distribusi energi global akan membantu menjaga harga minyak dunia sehingga tidak mengalami lonjakan yang berlebihan. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada kemampuan masyarakat dalam mempertahankan daya beli.
"Ini bisa menjaga daya beli kita, motor utama ekonomi Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. Jika masyarakat terus berbelanja, maka roda ekonomi akan berputar secara optimal," katanya.
Selain konsumsi rumah tangga, sektor manufaktur dan industri juga diperkirakan memperoleh manfaat dari stabilitas harga energi. Pasalnya, komponen energi seperti listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan generator menjadi bagian penting dalam struktur biaya produksi industri.
Lebih lanjut, ia menyambut positif upaya penurunan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Hal itu karena selama ini menjadi salah satu faktor pemicu volatilitas harga energi dunia.
"Ketika harga energi mulai turun, pemerintah juga perlu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran. Serta tidak langsung meningkatkan pengeluaran secara berlebihan," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....