Surat Kartini Masuk UNESCO, Indonesia Angkat Diplomasi Intelektual

  • 22 Apr 2026 15:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengakuan UNESCO terhadap surat-surat R.A. Kartini dalam Memory of the World Register 2025 dimanfaatkan Indonesia memperkuat diplomasi intelektual
  • Pengakuan internasional terhadap surat-surat Kartini menunjukkan bahwa arisan pemikiran Indonesia memiliki relevansi global.
  • Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO, Monique Van Daalen, turut menyoroti pemikiran Kartini.

RRI.CO.ID, Paris - Pengakuan UNESCO terhadap surat-surat R.A. Kartini dalam Memory of the World Register 2025 dimanfaatkan Indonesia memperkuat diplomasi intelektual. Momentum itu ditandai melalui penyelenggaraan acara “Kartini Letters: A Spark in the Memory of the World” di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Rabu, 16 April 2026.

Kegiatan ini digelar Kantor Wakil Tetap Republik Indonesia (KWRI) untuk UNESCO bersama Delegasi Tetap Kerajaan Belanda untuk UNESCO. Serta, dihadiri sekitar 100 delegasi dari berbagai negara.

Pengakuan internasional terhadap surat-surat Kartini menunjukkan bahwa arisan pemikiran Indonesia memiliki relevansi global. Khususnya, dalam isu pendidikan, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia.

“Ini bukan hanya pengakuan terhadap sejarah. Tetapi, juga penguatan posisi Indonesia dalam kontribusi intelektual di tingkat dunia,” kata Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar.

Oemar menekankan, gagasan Kartini tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi emansipasi perempuan tetap kontekstual hingga saat ini. Bahkan menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan.

Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar (tengah) di sela-sela kegiatan (Foto: Dokumentasi/KBRI Paris)

Dalam forum tersebut, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO, Monique Van Daalen, turut menyoroti pemikiran Kartini. Menurutnya, hal itu mencerminkan pandangan maju tentang peran perempuan dan akses pendidikan bagi anak perempuan, isu yang masih menjadi fokus UNESCO.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan diskusi buku The Most Beautiful Letters from Kartini bersama editor dan penulisnya, Lara Nuberg dan Feba Sukmana. Diskusi ini mengupas isi surat Kartini secara lebih mendalam, termasuk kritik terhadap kolonialisme dan berbagai pembatasan terhadap perempuan.

Sejumlah peserta menilai pemikiran Kartini masih relevan dalam konteks perjuangan kesetaraan masa kini. Kartini bahkan disebut sebagai salah satu pelopor gagasan emansipasi perempuan di tingkat global.

“Melalui kegiatan ini, Indonesia menegaskan upaya mengintegrasikan diplomasi budaya dan intelektual. Yaitu, dalam memperkenalkan warisan nasional ke tingkat internasional,” ujar Dubes Oemar menekankan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....