Utusan Khusus PBB Kunjungi Mesir Bahas Konflik Timteng

  • 21 Apr 2026 15:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Utusan Pribadi Sekretaris Jenderal PBB untuk konflik Timur Tengah dan dampaknya, Jean Arnault, melakukan kunjungan ke Mesir.
  • Dalam kunjungan tersebut, Arnault dijadwalkan bertukar pandangan dengan pihak Mesir terkait konflik yang sedang berlangsung.
  • Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik berkelanjutan untuk memperkuat koordinasi internasional dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Utusan Pribadi Sekretaris Jenderal PBB untuk konflik Timur Tengah (Timteng) dan dampaknya, Jean Arnault, melakukan kunjungan ke Mesir. Kunjungan Arnault ini guna membahas perkembangan situasi kawasan.

Dalam kunjungan tersebut, Arnault dijadwalkan bertukar pandangan dengan pihak Mesir terkait konflik yang sedang berlangsung. Termasuk, berbagai upaya regional untuk mendorong tercapainya penyelesaian antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat.

“Selain itu, Arnault juga akan mendalami dampak ekonomi dan kemanusiaan yang lebih luas akibat konflik tersebut. Yang dinilai berpengaruh terhadap stabilitas kawasan,” kata Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric dalam keterangan tertulis kepada media, Senin, 20 April 2026.

Menurut Dujarric kunjungan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik berkelanjutan untuk memperkuat koordinasi internasional dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, Arnault akan menegaskan kembali komitmen Sekretaris Jenderal PBB.

Yaitu, untuk mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan mencapai penyelesaian konflik secara komprehensif dan berkelanjutan. PBB juga menekankan pentingnya kerja sama regional dan internasional, guna mendorong stabilitas serta mengurangi dampak kemanusiaan yang ditimbulkan oleh konflik.

Sebelumnya, Iran memberi sinyal tidak akan mengirim negosiator ke Islamabad untuk putaran baru pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS). Hal ini meningkatkan ketegangan menjelang berakhirnya gencatan senjata yang rapuh dalam waktu kurang dari 48 jam.

Washington telah melanggar gencatan senjata sejak awal pelaksanaannya. Kata Juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, Senin, 20 April 2026, demikian dilansir Aljazeera.

Baghaei menuding tindakan AS, termasuk blokade angkatan laut di Selat Hormuz sejak 13 April dan penangkapan kapal kontainer Iran oleh militer AS. Sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata serta hukum internasional.

Baghaei menegaskan bahwa Iran telah menyampaikan keluhan tersebut kepada Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama antara kedua negara. Ia juga memperingatkan bahwa jika AS dan Israel kembali melakukan agresi, pasukan Iran akan merespons dengan sewajarnya.

Meski demikian, Iran menegaskan tetap berpegang pada proposal 10 poin yang diajukan sebelum putaran pertama pembicaraan di Islamabad. Proposal tersebut, menurut Baghaei, menjadi dasar bagi setiap negosiasi yang mungkin dilakukan ke depan.

Pembicaraan damai antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan atau dikenal dengan istilah “Islamabad Talks 2026” gagal mencapai kesepakatan pada 11 – 12 April 2026. Pembicaraan tahap kedua ini pun diharapkan mampu mencapai kesepakatan damai di tengah akan berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu, 22 April 2026 mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....