Buya Subi Tampil di Australia, Dorong Fesyen Berkelanjutan dan Buka Peluang Ekspor

  • 20 Apr 2026 15:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kain tenun khas Donggala, Sulawesi Tengah, Buya Subi, diperkenalkan dalam ajang Eco Fashion Showcase Buya Subi di Perth, Australia.
  • Kegiatan yang berlangsung di Museum Australia Barat, Boola Bardip ini menampilkan 22 karya desainer Australia yang mengolah kain Buya Subi.
  • Selain sebagai ajang promosi budaya, kegiatan ini dinilai membuka peluang ekonomi bagi Indonesia.

RRI.CO.ID, Perth - Kain tenun khas Donggala, Sulawesi Tengah, Buya Subi, diperkenalkan dalam ajang Eco Fashion Showcase Buya Subi. Kegiatan ini digelar Konsulat Jenderal RI (KJRI) Perth bekerja sama dengan Eco Fashion Week Australia dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Kegiatan yang berlangsung di Museum Australia Barat, Boola Bardip ini menampilkan 22 karya desainer Australia yang mengolah kain Buya Subi. Serta, memadukannya bersama material ramah lingkungan.

Konsul Jenderal RI di Perth, Irvan Buchari, mengatakan bahwa industri fashion ke depan perlu menyeimbangkan aspek estetika dan keberlanjutan. “Keberlanjutan tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa dampak nyata,” ujar Irvan dalam sambutannya.

Buya Subi dikenal sebagai kain tenun yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan, mulai dari penggunaan bahan alami hingga praktik zero waste. Selain itu, proses produksinya juga melibatkan pemberdayaan perempuan, yang sebagian besar menjadi penenun kain tersebut.

Promosi Buya Subi tidak hanya bertujuan memperkenalkan produk, tetapi juga mengangkat nilai budaya dan peran para penenunnya. Kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih pada kesempatan yang sama.

Selain sebagai ajang promosi budaya, kegiatan ini dinilai membuka peluang ekonomi bagi Indonesia. Khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor tenun dan kriya.

Eksposur di pasar internasional diharapkan dapat meningkatkan permintaan ekspor serta memperluas jejaring kerja sama dengan pelaku industri fashion global. Acara ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari desainer, korps diplomatik, hingga perwakilan pemerintah Australia Barat dan media lokal.

Para tamu memberikan apresiasi terhadap kreativitas desainer dalam memadukan unsur tradisional dan konsep keberlanjutan. Pendiri sekaligus CEO Eco Fashion Week Australia, Zuhan Mills, menilai pergeseran dari fast fashion ke fesyen berkelanjutan menjadi kebutuhan global.

Mills menyebut Buya Subi sebagai salah satu contoh yang dapat menginspirasi. Sementara, promosi Buya Subi telah dilakukan sejak 2024, termasuk melalui partisipasi dalam Eco Fashion Runway di Busselton Jetty.

Pada 2026, Buya Subi juga tercatat sebagai bagian dari United Nations Fashion and Lifestyle Network. Yang semakin memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya dan industri kreatif berkelanjutan di tingkat global.

Rangkaian kegiatan ini akan berlanjut ke Canberra dan Vancouver. Sebelum mencapai puncaknya pada Eco Fashion Week Australia 2026 di Perth pada Oktober mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....