PBB: Pembatasan Barang Hambat Penyaluran Bantuan Kemanusiaan di Gaza

  • 18 Apr 2026 17:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan pembatasan barang “dual-use” masih menghambat distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza, terutama untuk pembersihan bom dan ranjau.
  • Kekurangan peralatan penanganan bahan peledak meningkatkan risiko keselamatan, dengan puluhan korban luka akibat insiden sepanjang 2026, sementara upaya yang ada masih terbatas pada edukasi.
  • Meski bantuan dasar tetap disalurkan dan layanan kemanusiaan berjalan, serangan di wilayah sipil masih terjadi, sehingga PBB menegaskan pentingnya perlindungan warga sesuai hukum humaniter internasional.

RRI.CO.ID, Gaza - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pembatasan masih terus menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan di Gaza. Meski demikian, sejumlah bantuan telah mulai masuk ke wilayah tersebut, dilansir dari Xinhua, Sabtu, 18 April 2026.

Hambatan utama berasal dari pembatasan terhadap barang “dual-use”, yakni barang yang dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyoroti bahwa pembatasan ini berdampak signifikan pada upaya pembersihan bom dan ranjau, serta menghambat proses pemulihan pascakonflik.

Peralatan penting untuk menangani bahan peledak yang belum meledak hingga kini belum mendapatkan izin masuk. Hal tersebut meningkatkan risiko bagi warga sipil maupun pekerja kemanusiaan di lapangan.

Meski demikian, tim PBB tetap menyalurkan bantuan dasar seperti bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya. Bantuan tersebut disalurkan melalui dua jalur utama, yakni Kerem Shalom dan Zikim.

Namun, mitra aksi ranjau memperingatkan bahwa kurangnya peralatan pembersih telah memicu krisis keselamatan yang semakin memburuk. Sepanjang tahun 2026, tercatat lebih dari selusin kecelakaan akibat bahan peledak yang belum meledak.

Tim kemanusiaan telah memberikan edukasi kepada lebih dari 12.000 warga di berbagai wilayah Gaza untuk mengurangi risiko. Namun, tanpa dukungan peralatan khusus, upaya yang dilakukan masih terbatas pada peningkatan kesadaran dan belum mampu mengurangi risiko fisik.

Di sisi lain, layanan kemanusiaan lainnya tetap berjalan. Bantuan juga diberikan kepada korban kekerasan berbasis gender, dengan hampir 8.000 orang menerima dukungan. Bantuan tersebut termasuk layanan kesehatan mental, perlindungan, serta bantuan kebutuhan dasar.

Sementara itu, laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan Israel masih terjadi di sejumlah wilayah permukiman di Gaza. PBB kembali menegaskan bahwa perlindungan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil harus menjadi prioritas utama. Hal tersebut harus dilakukan sesuai dengan hukum humaniter internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....