Kekuatan Menengah, Indonesia Perlu Belajar dari Pakistan

  • 14 Apr 2026 23:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pendiri The Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal menilai, Indonesia perlu belajar dari Pakistan terkait perang Iran dengan AS dan Israel.
  • Penting bagi Indonesia sebagai salah satu negara “kekuatan menegah” untuk belajar dari Pakistan,
  • Indonesia sebagai salah satu negara “kekuatan menengah”, untuk berpegang teguh pada kebijakan politik bebas aktif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pendiri The Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal menilai, Indonesia perlu belajar dari Pakistan terkait perang Iran dengan AS dan Israel. Menurutnya, terlebih Pakistan bisa memainkan peran penting sebagai mediator pembicaraan damai antara delegasi Iran dan AS pada 11 – 12 April 2026 di Islamabad.

“Tadi kita mendengar penjelasan dari Pakistan (panelis-red), menjelaskan kenapa Pakistan bisa memainkan peran yang penting, karena Pakistan mengambil posisi yang berprinsip. Jadi dia (Pakistan-red) mengecam serangan Amerika terhadap Iran, yang memang melanggar hukum internasional,” kata Dino saat ditemui di sela-sela pelaksanaan “Middle Powers Conference 2026”, Selasa, 14 April 2026 di Jakarta.

Dino menambahkan, penting bagi Indonesia sebagai salah satu negara “kekuatan menegah” untuk belajar dari Pakistan, tentang membela sesuatu yang menjadi prinsip. Ia menyebut, hal itu perlu diikuti dengan keberanian memberikan kritik terhadap seseorang maupun sebuah negara.

“Termasuk AS, itu harus kita lakukan juga, yang kita lihat Pakistan dekatnya seperti apa dengan Amerika, dekat sekali, secara strategis, secara militer, ekonomi dan lain sebagainya. Tapi mereka tidak sungkan untuk mengkritik Amerika Serikat untuk hal yang mereka lakukan, mereka anggap sebagai pelanggaran,” ujar Dino dalam konferensi yang menghadirkan para panelis internasional ini.

Secara khusus Dino mendorong, Indonesia sebagai salah satu negara “kekuatan menengah”, untuk berpegang teguh pada kebijakan politik bebas aktif. Yaitu, sebuah kebijakan yang dinilainya memberikan peluang bagi Indonesia bebas bersikap dalam menyikapi situasi global.

“Jadi menurut saya sebagai “middle power” (kekuatan menengah-red), kita jangan lupa bahwa bebas aktif itu berarti bebas untuk bersikap. Bebas untuk berkritik dan kita harus punya nyali untuk membela hal-hal yang penting bagi tatanan dunia yang adil,” kata Dino Patti Djalal menekankan.

Secara khusus Dino juga mendorong, agar seluruh pihak di dalam negeri melakukan berbagai persiapan atas berbagai dampak yang berpeluang ditimbulkan. Yaitu, dari perang antara Iran dengan AS dan Israel yang tak kunjung reda sejak 28 Februari 2026.

“Ya itu harus karena semua negara sekarang bersiap-siap, terutama harga minyak dan supply minyak. Jadi bukan harga minyak saja, harga dan supply minyak. Kita kita harus melakukan diplomasi dengan lihai, tapi ke dalam negeri transisi ke energi hijau sebagai contoh,” ucapnya.

Keberhasilan Pakistan sebagai mediator pembicaraan damai Iran dan AS di Islamabad, disebut sebagai satu-satunya negara yang memiliki kekuatan mempertemukan kedua pihak. Demikian kata pakar kebijakan, penulis dan jurnalis Pakistan di bidang diplomasi urusan strategis global, Nasim Zehra pada kesempatan yang sama.

Pakar kebijakan, penulis dan jurnalis Pakistan di bidang diplomasi urusan strategis global, Nasim Zehra, hadir secara daring dalam "Middle Powers Conference 2026", Selasa, 14 April 2026 di Jakarta (Foto: RRI/Retno Mandasari)

Nasim mengungkapkan, upaya Pakistan tersebut juga didukung oleh negara-negara adidaya seperti Tiongkok maupun AS serta Iran itu sendiri. Sehingga, upaya Pakistan sebagai negara “kekuatan tengah” didukung oleh negara-negara kekuatan global.

“Persiapan menuju Islamabad melibatkan sekitar 12 hingga 10 atau 14 hari sebelum pertemuan tersebut, ada keterlibatan aktif antara Pakistan dengan Iran, Pakistan dengan Amerika Serikat. Dan saya rasa ada panggilan telepon setiap hari ke Washington, ke Iran,” ujarnya.

“Pada saat itu, Tiongkok juga ikut terlibat, kunjungan menteri luar negeri Pakistan ke Tiongkok dan dukungan aktif Tiongkok terhadap Pakistan yang memimpin inisiatif diplomatik tersebut. Jadi, jelas dan menarik untuk melihat bahwa kekuatan menengah memainkan peran, tetapi kekuatan global utama juga berperan,"katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....