BSKLN Kemlu-Think Tank Kanada Perkuat Peran Middle Power dalam Tatanan Global
- 10 Apr 2026 20:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa bersama Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kemenlu menggelar Roundtable Policy Dialogue (RPD) di Ottawa, Kamis 9 April 2026.
- Forum ini digelar untuk memperdalam pertukaran pandangan strategis dengan kalangan pemikir kebijakan Kanada terkait dinamika global dan regional serta peluang penguatan kerja sama Indonesia–Kanada.
RRI.CO.ID, Ottawa - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa bersama Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kemenlu menggelar Roundtable Policy Dialogue (RPD) di Ottawa, Kamis 9 April 2026. Dialog ini dimoderatori oleh Duta Besar RI untuk Kanada Muhsin Syihab.
Forum ini digelar untuk memperdalam pertukaran pandangan strategis dengan kalangan pemikir kebijakan Kanada terkait dinamika global dan regional. Serta peluang penguatan kerja sama Indonesia–Kanada.
Turut hadir antara lain, Kepala BSKLN Kemlu Muhammad Takdir, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Luar Negeri Kawasan Amerika dan Eropa BSKLN Spica Alphanya Tutuhatunewa. Lalu, Deputy Chief of Mission KBRI Ottawa Lefianna Hartati Ferdinandus, Konsul Jenderal RI di Vancouver Nina Kurnia Widhi, serta jajaran KBRI Ottawa dan KJRI Vancouver.
Dari pihak Kanada, sejumlah tokoh think tank dan akademisi turut hadir, di antaranya Vina Nadjibulla (Asia Pacific Foundation of Canada). Kemudian, Christopher Coates (Macdonald-Laurier Institute), Matthew Millar (Journal of Geoeconomics), Gregory Goldhawk (Canadian International Council).
Ada pula Prof. Elliot Tepper dari Norman Patterson School of International Affairs, Carleton University. RPD membahas dua tema utama, yakni Current Global and Regional Dynamics serta Potential Cooperation and Collaboration.
Diskusi berlangsung substantif, menyoroti peluang Indonesia dan Kanada memanfaatkan perubahan lanskap geopolitik dan geoekonomi. Guna membangun kemitraan yang lebih konkret, saling menguntungkan, dan berjangka panjang.
Dubes Muhsin menegaskan pentingnya mempercepat upaya agar Indonesia semakin dikenal publik Kanada. Menurutnya, ruang penguatan hubungan bilateral sangat terbuka di tengah perubahan orientasi kebijakan luar negeri global.
“Ini saat yang tepat membawa hubungan Indonesia–Kanada ke tingkat lebih maju, konkret, dan strategis. Indonesia perlu semakin hadir dalam percakapan publik Kanada sebagai mitra relevan bagi masa depan Indo-Pasifik,” ujarnya.
Kepala BSKLN Muhammad Takdir menyoroti kuatnya peran Indonesia sebagai bridge builder dalam kebijakan luar negeri. Ia menekankan pentingnya memperkuat peran negara middle power untuk menyeimbangkan tatanan internasional yang inklusif dan stabil.
“Peran middle power perlu diperkuat bukan untuk menyaingi big power, tetapi melengkapi dan menyeimbangkan hubungan internasional agar lebih berorientasi pada solusi. Dalam konteks ini, Kanada memiliki posisi penting sebagai mitra Indonesia,” katanya.
Takdir menambahkan, nilai kebijakan luar negeri Kanada memiliki irisan kuat dengan orientasi diplomasi Indonesia. Terutama dalam kerja sama saling menguntungkan dan komitmen pada tatanan dunia berbasis aturan.
Dari kalangan think tank, Vina Nadjibulla menilai saat ini terdapat window of opportunity besar untuk memperkuat hubungan bilateral. Menurutnya, Kanada sedang menata ulang orientasi kebijakan luar negeri di tengah disrupsi global, sehingga membuka peluang kerja sama lebih luas dengan Indonesia.
Forum merekomendasikan percepatan ratifikasi Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) disertai kegiatan roll out terkoordinasi di kedua negara. Usulan kunjungan Perdana Menteri Kanada ke Indonesia juga dinilai penting untuk menciptakan momentum implementasi perjanjian tersebut.
Sejumlah sektor kerja sama potensial turut dibahas, meliputi mineral kritis, maritim, pertahanan, geotermal, teknologi antariksa. Hingga pengembangan talenta melalui kemitraan antaruniversitas.
Prof. Elliot Tepper menekankan pentingnya constancy of presence sebagai fondasi keberhasilan diplomasi bilateral. Sementara Gregory Goldhawk menyoroti peran promosi budaya untuk mendekatkan publik Kanada dengan Indonesia.
Peserta juga menilai pentingnya menjangkau pemerintah provinsi Kanada yang dinilai lebih lincah dalam membangun kemitraan eksternal dibanding pemerintah federal. KBRI Ottawa dan BSKLN menegaskan komitmen memperkuat fondasi intelektual dan kebijakan hubungan Indonesia–Kanada menjelang peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027.
Dialog ditutup dengan jamuan makan siang bernuansa Nusantara—menyajikan sate ayam, pepes ikan, tempe bacem, lalapan, dan sambal. Ini sebagai bagian dari promosi kuliner Indonesia, mengingatkan bahwa diplomasi yang kuat sering berakar dari kehangatan budaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....