Media Sosial Kian Berpengaruh, Hamish Macdonald Ingatkan Tantangan Jurnalisme

  • 07 Apr 2026 20:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hamish Macdonald menilai media sosial semakin berpengaruh dalam percakapan politik.
  • Media arus utama masih berpeluang membangun kembali kepercayaan publik dengan transparansi, termasuk mengakui kesalahan dan menjelaskan proses jurnalistik secara terbuka.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pengaruh media sosial terhadap percakapan politik semakin besar. Terutama di negara dengan tingkat keterlibatan digital yang tinggi, seperti halnya Indonesia.

Demikian disampaikan Host ABC Radio Sydney, Hamish Macdonald, Selasa, 7 April 2026. Menurutnya, populasi pengguna media sosial yang aktif dan melek informasi membuat diskusi publik berkembang pesat di ruang digital.

Ia mengatakan, di banyak demokrasi Barat, keterlibatan generasi muda dalam isu sosial dan politik sebenarnya dipandang positif. Dukungan terhadap berbagai isu melalui media sosial dinilai dapat mendorong partisipasi publik yang lebih luas dalam kehidupan demokrasi.

Namun demikian, ia mengakui banyak masyarakat kini lebih memilih mendapatkan informasi dari media sosial atau para influencer. Hal ini, kata Hamish, tidak terlepas dari beberapa kesalahan yang pernah dilakukan media, sehingga memicu berkurangnya kepercayaan publik.

“Sebagian orang merasa marah terhadap media tradisional. Mereka kadang melihat kami sebagai bagian dari masalah atau penjaga gerbang yang tidak menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya.

Chief of International Desk CNN Indonesia, Rully Kurniawan, juga menyetujui pernyataan tersebut. Menurutnya, profesi jurnalis saat ini menghadapi berbagai tekanan di tengah persaingan antara media arus utama dan media alternatif.

“Itu menjadi salah satu tantangan buat kita. Tunjukkan bahwa profesi sebagai seorang jurnalis itu benar-benar bisa membuat kita bangga,” ucap Rully.

Meski begitu, Hamish menilai media arus utama masih memiliki peluang besar untuk membangun kembali kepercayaan publik. Caranya adalah dengan bersikap lebih transparan kepada audiens, termasuk mengakui kesalahan dan menjelaskan proses jurnalistik secara terbuka.

Macdonald mencontohkan Finlandia sebagai negara dengan tingkat kepercayaan publik terhadap media yang sangat tinggi. Salah satu praktik yang diterapkan adalah memberikan klarifikasi secara cepat dan menonjol ketika terjadi kesalahan pemberitaan.

“Jika sebuah berita di halaman depan ternyata keliru, maka klarifikasi. Perbaikannya juga ditempatkan di halaman depan dengan tingkat perhatian yang sama,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....