Dampak Ekonomi Mulai Dirasakan, Sekjen PBB Desak Perang di Timteng Dihentikan

  • 05 Apr 2026 22:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran menghentikan perang di kawasan.
  • Guterres juga mengeluarkan peringatan keras bahwa dunia berada di ambang perang yang lebih luas dengan implikasi global yang dahsyat.
  • Sekjen PBB mencatat penargetan warga sipil dan infrastruktur sipil, serta bahaya umum bagi perekonomian dunia.

RRI.CO.ID, New York - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran menghentikan perang di kawasan. Perang yang memasuki bulan kedua itu menyebabkan ketegangan di Timur Tengah (Timteng).

Desakan oleh Sekjen PBB itu dikeluarkan seiring dengan dampak ekonomi yang mulai dirasakan akibat perang. Tidak hanya oleh masyarakat yang tinggal di kawasan Timteng, namun dampak ekonomi juga dirasakan masyarakat dunia secara luas.

“Kepada AS dan Israel, sudah saatnya menghentikan perang yang menimbulkan penderitaan manusia luar biasa dan telah memicu konsekuensi ekonomi yang menghancurkan. Iran, harus berhenti menyerang negara-negara tetangganya,” ujar Sekjen Guterres dalam konferensi pers, Kamis, 2 April 2026 di Markas Besar PBB, New York, AS.

Guterres juga mengeluarkan peringatan keras bahwa dunia berada di ambang perang yang lebih luas dengan implikasi global yang dahsyat. Ia menyampaikan gambaran suram tentang situasi yang memburuk dengan cepat.

Hal itu dikarenakan Israel dan AS terus membombardir Iran, sementara Teheran melakukan serangan terhadap negara-negara Teluk tetangga. Serta, mengancam kapal-kapal yang dianggap bermusuhan dengan menggunakan Selat Hormuz yang sangat penting.

“Setiap hari perang ini berlanjut, penderitaan manusia semakin bertambah. Skala kehancuran semakin besar. Serangan tanpa pandang bulu semakin meningkat,” kata Guterres.

Sekjen PBB mencatat penargetan warga sipil dan infrastruktur sipil, serta bahaya umum bagi perekonomian dunia. Terutama, masyarakat yang paling rentan yang bergantung pada impor energi semakin meningkat setiap hari.

Ia menekankan dampak krisis tidak lagi terbatas di dalam kawasan tersebut, khususnya menunjuk pada gangguan serius seputar kebebasan navigasi. “Ketika Selat Hormuz tercekik, orang-orang termiskin dan paling rentan di dunia tidak dapat bernapas,” ucapnya memperingatkan.

“Konsekuensinya sudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang berjuang dengan kenaikan biaya pangan dan energi. Dari Filipina, Sri Lanka hingga Mozambik, "katanya.

Sementara, Presiden Trump melalui akun Instagram mengunggah pernyataan terkait seruannya kepada Iran untuk membuat kesepakatan terkait Selat Hormuz. Pernyataan itu diunggah pada Sabtu, 4 April 2026.

“Ingat ketika saya memberi Iran waktu sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz. Waktu hampir habis—48 jam sebelum malapetaka menimpa mereka, segala puji bagi Tuhan! Presiden Donald J. Trump,” tulis Presiden Trump di akun Instagram yang diunggah kembali oleh akun Gedung Putih di hari yang sama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....