Siapkan Talenta, Menko Muhaimin Lepas 200 PMI ke Jepang

  • 03 Apr 2026 19:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar melepas sebanyak 200 pekerja migran Indonesia (PMI) terampil ke Jepang
  • Kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi nasional dalam menyiapkan Talenta Global Indonesia.
  • Program SMK Go Global menjadi salah satu atensi khusus Presiden Prabowo Subianto yang diinstruksikan langsung kepada Menko Pemberdayaan Masyarakat pasca Rapat Kabinet pada 5 November 2025 lalu.

RRI.CO.ID, Tangerang - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar melepas sebanyak 200 pekerja migran Indonesia (PMI) terampil ke Jepang. Kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi nasional dalam menyiapkan Talenta Global Indonesia.

Menko Muhaimin mengatakan pemberangkatan kali ini melalui skema Specified Skilled Worker (SSW). Kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi nasional dalam menyiapkan Talenta Global Indonesia menuju implementasi program SMK Go Global.

"Tahap pertama ini kita akan memberangkatkan sekitar 200-an lebih. Malam ini dimulai dari 50-an untuk berangkat ke Jepang dengan kontrak lima tahun," ujarnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat 3 April 2026.

Menurutnya, program SMK Go Global menjadi salah satu atensi khusus Presiden Prabowo Subianto yang diinstruksikan langsung kepada dirimya pasca Rapat Kabinet pada 5 November 2025 lalu.

"Terima kasih kepada semua pihak yang ikut men-support mulai dari persiapan, pelatihan, sampai keberangkatan ini. Inilah cara kerja kita agar para pekerja dan talenta yang muda ini bisa segera mendapatkan tempat yang bagus di beberapa negara maju," katanya.

Dia mengatakan program SMK Go Global yang berjalan hari ini adalah langkah awal, didukung pembiayaan CSR BUMN. Dari sini, model program diuji dan disempurnakan, sebagai fondasi menuju implementasi skema reguler yang saat ini tengah disiapkan.

Muhaimin membeberkan PMI ini diberangkatkan melalui berbagai program kolaboratif, yang terdiri dari 50 orang melalui program CSR PT Angkasa Pura. Lalu, 30 orang melalui program CSR PT Kereta Api Indonesia.

"Serta 120 orang melalui fasilitasi Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Pelepasan ini menjadi bagian dari implementasi kebijakan SMK Go Global, yang dirancang sebagai jembatan untuk mencetak sumber daya manusia unggul dan berdaya saing global," ujarnya.

Muhaimin menegaskan kegiatan ini merupakan implementasi konkret yang dirancang untuk menyiapkan talenta Indonesia agar mampu bersaing di tingkat internasional. Sekaligus menjadi representasi kualitas tenaga kerja nasional.

“Pelepasan hari ini adalah bukti nyata bahwa SMK Go Global menjadi kunci dalam membuka akses dan memperluas ekspansi tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Kita ingin SDM kita mampu bersaing dan mengambil peluang di pasar kerja internasional,” ujarnya.

Program SMK Go Global menjadi jembatan strategis dalam mencetak tenaga kerja yang tidak hanya siap kerja. Tetapi juga memiliki standar kompetensi internasional, termasuk kesiapan budaya kerja dan adaptasi global.

Ia menyebut bahwa pekerja migran akan terus menjadi prioritas nasional dalam upaya menciptakan kesejahteraan jangka panjang. PMI diharapkan tidak hanya bekerja di luar negeri, tetapi juga menjadi agen transformasi ekonomi saat kembali ke tanah air.

Muhaimin mengingatkan kepada para PMI agar terus meningkatkan kapasitas diri, menjaga integritas dan profesionalisme. Menghormati hukum serta budaya negara tujuan, serta mengelola keuangan dengan bijak untuk masa depan yang lebih baik.

Kepada kementerian dan lembaga terkait, seperti KP2MI, BPJS Ketenagakerjaan, perwakilan RI di luar negeri, serta BUMN, diimbau untuk memastikan perlindungan maksimal bagi PMI. Termasuk penyediaan program peningkatan keterampilan secara berkelanjutan.

Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla menambahkan bila keberangkatan ini diawali kompetensi mumpuni ke luar negeri. Apalagi Jepang, pihaknya juga punya skema GPG. Ekosistem penempatan pekerja migran di Jepang itu salah satu favorit.

"Tantangannya, selain kompetensi adalah bahasa, karena untuk selesai lolos sertifikasi bahasa Jepang itu butuh kursus kurang lebih 5-6 bulan. Karena kita tahu bahasa Jepang ini, bahasa tersulit ke-3 di dunia setelah bahasa Batak dan bahasa Jawa," kata dia.

Dzulfikar menuturkan di Jepang itu punya iklim yang berbeda dengan Indonesia apalagi di Jepang punya musim semi dan musim salju. "Itu membutuhkan fisik yang kuat. Yang terakhir itu siap visi siap dokumen siap kompetensi," ujarnya.

Pantauan rri.co.id, Menko Muhaimin turut memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Kemudian, PT Angkasa Pura, PT Kereta Api Indonesia dan P3MI.

Para PMI di Jepang nantinya akan ditempatkan pada manufaktur dan teknisi. Sedangkan target pelatihan dan penempatan hingga 500.000 PMI terampil sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....