PBB Catat Perang Israel-Hizbullah Banyak Langgar Resolusi 1701
- 31 Mar 2026 16:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PBB menilai banyak pelanggaran yang dilakukan dalam serangan Israel ke Lebanon Selatan terhadap resolusi 1701 (2006).
- PBB menyebut, pelanggaran yang dilakukan dalam serangan di kedua arah melintasi Garis Biru serta kehadiran pasukan Israel di Lebanon.
- Tiga personel penjaga perdamaian Garuda di UNIFIL gugur akibat serangan Israel ke Lebanon Selatan pada 29 dan 30 Maret 2026.
RRI.CO.ID, New York - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan dalam serangan Israel ke Lebanon Selatan terhadap resolusi 1701 (2006). “Kami telah melihat banyak sekali serangan Israel ke Lebanon Selatan di berbagai daerah, termasuk di dekat markas kami di Naqoura," kata Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel dilansir UN News, Selasa, 31 Maret 2026.
"Kami mengalami beberapa pertempuran yang sangat sengit yang dapat kami dengar. Terlebih dalam kurun waktu sekitar seminggu yang lalu, dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.
Ia mengatakan, markas UNIFIL diserang bahkan terkena peluru. "Roket bahkan menghantam markas kami, jadi itu adalah situasi yang sangat berbahaya dan tidak menentu," ucapnya.
Sementara, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix mengatakan, banyaknya pelanggaran terhadap resolusi 1701 di Lebanon Selatan. Utamanya, serangan di kedua arah melintasi Garis Biru serta kehadiran pasukan Israel di Lebanon.
Menurutnya, permusuhan hanya dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik. Wasekjen PBB ini juga menyerukan kepada seluruh pihak agar menghormati resolusi 1701.
“Tidak mungkin ada solusi militer, harus ada solusi politik. Kerangka kerja untuk solusi politik sudah ada yaitu resolusi 1701 yang masih dianut oleh semua pihak, berdasarkan informasi terbaik yang kami dengar dari mereka,” kata Lacroix menjelaskan.
Saat ini lebih dari 8.000 pasukan penjaga perdamaian dari hampir 50 negara bertugas di UNIFIL. “Para pria dan wanita ini menunjukkan keberanian dan komitmen yang luar biasa untuk memajukan perdamaian dan keamanan internasional jauh dari tanah air,” ucap Lacroix.
Sementara, tiga personel penjaga perdamaian Garuda di UNIFIL gugur akibat serangan Israel ke Lebanon Selatan pada 29 dan 30 Maret 2026. Serangan itu juga menyebabkan beberapa personel lainnya luka berat dan ringan.
UNIFIL mengatakan, penyelidikan terhadap tewasnya personel penjaga perdamaian RI pada Minggu, 29 Maret 2026, sedang berlangsung tetapi akan memakan waktu. Diketahui Praka Farizal Rhomadhon gugur dalam serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr.
Insiden yang terjadi di tengah saling serang artileri antara Israel dan Hizbullah juga menyebabkan tiga personel penjaga perdamaian Garuda terluka. Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, sedangkan Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan.
Sementara dua personel Garuda di UNIFIL lainnya kembali gugur di dekat Bani Haiyyan, Lebanon selatan, Senin, 30 Maret 2026. Serangan ini juga melukai dua personel penjaga perdamaian Garuda lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....