Laut Merah Terancam Konflik, Perparah Krisis Jalur Minyak Global

  • 18 Mar 2026 13:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penutupan Selat Hormuz Paksa Arab Saudi Cari Jalur Alternatif Minyak
  • Volume Pengiriman Minyak di Pelabuhan Yanbu Naik Dua Kali Lipat
  • Harga Brent Berisiko Tembus 150 Dolar AS jika Laut Merah Ikut Terganggu

RRI.CO.ID, Riyadh — Serangan terhadap kapal-kapal komersial di Timur Tengah telah memperburuk situasi keamanan maritim. Kondisi ini hampir menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global.

Kondisi ini mengguncang pasar energi dunia dan memaksa para produsen mencari rute alternatif untuk menyalurkan minyak ke berbagai negara. Salah satu jalur alternatif yang digunakan adalah melalui Laut Merah, dilansir dari CNN, Rabu, 18 Maret 2026.

Saudi Aramco telah mengalihkan pengiriman minyak melalui pipa menuju pelabuhan Yanbu di pesisir barat Arab Saudi. Data Kpler menunjukkan, volume pemuatan minyak di pelabuhan tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahun lalu.

Namun, jalur alternatif ini juga menghadapi ancaman baru. Iran menyatakan bahwa fasilitas militer Amerika Serikat di Laut Merah dapat menjadi target potensial.

Kapal induk USS Gerald R. Ford disebut sebagai ancaman, Iran memperingatkan akan menargetkan pusat logistik yang mendukung operasi tersebut. Situasi di Laut Merah sendiri telah lama tidak stabil.

Sejak 2023, kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut sebagai respons terhadap konflik Israel dan Hamas. Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute mereka melalui Afrika Selatan, yang menyebabkan peningkatan waktu tempuh dan biaya operasional.

Arab Saudi memiliki pipa yang mampu mengangkut hingga 7 juta barel minyak per hari. Meski demikian, kapasitas tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan volume yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Jika gangguan juga terjadi di Laut Merah, maka pasokan minyak global dapat semakin tertekan. Hal tersebut dapat berpotensi mendorong lonjakan harga minyak secara signifikan.

Para analis memperkirakan harga minyak mentah Brent crude dapat melonjak. Lonjakan tersebut dapat terjadi hingga 130 hingga 150 dolar AS (Rp2,2 hingga Rp2,5 juta) per barel jika situasi memburuk.

Kenaikan harga ini berisiko memicu dampak luas terhadap ekonomi global, termasuk meningkatnya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok. Sementara itu, kapal kontainer yang mengangkut barang sebagian besar telah menghindari Laut Merah sejak akhir 2023.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....