Perang Iran Uji Ketahanan Pangan Negara-Negara Teluk

  • 06 Mar 2026 13:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Teheran — Negara-negara Teluk yang kaya menghadapi tantangan ketahanan pangan terbesar sejak krisis pangan global 2008. Kondisi ini dipicu konflik dengan Iran yang mengancam pelabuhan dan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Perang ini menguji strategi ketahanan pangan yang diterapkan negara-negara Teluk setelah krisis 2008. Saat itu, lonjakan harga pangan mendorong mereka bergantung pada impor serta menginvestasikan dana besar dalam sektor pertanian luar negeri.

Kebijakan tersebut menggantikan program mahal yang sebelumnya bertujuan meningkatkan produksi pangan domestik. Namun upaya itu sulit berhasil karena iklim ekstrem dan keterbatasan air di kawasan.

Melansir Reuters, Jumat, 6 Maret 2026, saat ini sekitar 80–90 persen kebutuhan pangan kawasan Teluk berasal dari impor. Gangguan pelayaran dan penutupan ruang udara diperkirakan akan memicu kenaikan harga pangan serta kelangkaan beberapa barang.

Lebih dari 70 persen bahan pangan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) juga diimpor melalui Selat Hormuz. Jika perang berlanjut, kawasan tersebut berpotensi menghadapi kekurangan pasokan.

Cadangan pangan yang dimiliki negara-negara GCC diperkirakan hanya mampu bertahan selama beberapa bulan. Setelah itu, pasar dapat menghadapi kenaikan harga serta waktu pengiriman yang lebih lama.

Blokade pelabuhan Jebel Ali di Dubai diperkirakan menjadi dampak langsung terbesar. Pelabuhan tersebut melayani sekitar 50 juta orang dan menjadi pusat ekspor ulang bagi kawasan.

Sementara itu, pelabuhan lain di Uni Emirat Arab di luar Selat Hormuz memiliki kapasitas yang terbatas. Kondisi ini membuatnya sulit menggantikan kapasitas Jebel Ali maupun Pelabuhan Khalifa di Abu Dhabi.

Negara seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Irak berpotensi terkurung daratan dan harus mengandalkan jalur darat melalui Arab Saudi. Kondisi ini dapat menimbulkan kemacetan logistik sekaligus meningkatkan biaya distribusi barang.

Pemerintah Uni Emirat Arab menyatakan cadangan strategis barang penting masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama empat hingga enam bulan. Pemerintah juga meminta warga melaporkan kenaikan harga yang tidak wajar melalui saluran pengaduan khusus.

Pengiriman makanan melalui udara atau jalur darat dinilai akan membuat harga jauh lebih mahal dibandingkan pengiriman melalui kapal. Para analis menilai kerja sama antara negara-negara GCC akan sangat penting untuk mengelola logistik.

Kerja sama tersebut juga diperlukan untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia di kawasan. Tanpa koordinasi yang kuat, gangguan perdagangan akibat konflik berisiko memicu tekanan harga dan potensi krisis pangan di wilayah Teluk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....