KBRI: Situasi Kuwait Mulai Kondusif, Sirine dan Dentuman Tak Lagi Terdengar
- 05 Mar 2026 21:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Situasi keamanan di Kuwait dilaporkan mulai berangsur kondusif setelah sempat diwarnai suara sirene dan dentuman pada malam sebelumnya. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuwait memastikan kondisi terkini relatif lebih tenang sehingga aktivitas masyarakat perlahan kembali berjalan.
Demikian disampaikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Kuwait, Lena Maryana, dalam keterangan persnya, Kamis 5 Maret 2026. Ia mengatakan hingga pagi hari tidak lagi terdengar sirene maupun dentuman di sejumlah wilayah.
“Alhamdulillah sepanjang malam hingga pagi ini kami tidak lagi mendengar sirine dan suara dentuman. Semoga suasana kembali pulih dan kondusif sehingga kami bisa beraktivitas di luar rumah,” kata Lena.
Meski situasi mulai membaik, ia menyebut, sejumlah kegiatan keagamaan selama Ramadan masih dibatasi. Salat tarawih diminta tetap dilakukan di rumah masing-masing, sementara salat lima waktu masih diperbolehkan dilaksanakan di masjid.
Selain itu, sejumlah tradisi Ramadan khas Kuwait tahun ini juga terpaksa ditiadakan. Di antaranya, kegiatan diwaniyah yang biasanya digelar selama 20 hari Ramadan setelah tarawih dibatalkan.
"Tradisi gergean, perayaan yang lazim digelar pada hari ke-15 dan ke-16 Ramadan, juga tidak dilaksanakan tahun ini," katanya. Sementara di sektor ekonomi, kondisi usaha dilaporkan masih terdampak.
"Kafe, restoran. Serta sektor hospitality dan wellness mulai sepi pengunjung," ucapnya menambahkan.
Lena mengaku khawatir kondisi tersebut dapat berdampak pada para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di sektor tersebut. Termasuk kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) jika situasi berkepanjangan.
Sementara itu, pekerja di sektor kesehatan seperti rumah sakit dan layanan ambulans diminta tetap siaga dan tidak mengambil cuti. Padahal, kata Lena, menjelang Idulfitri biasanya banyak tenaga kesehatan yang mengambil cuti untuk pulang ke Indonesia.
Selanjutnya, pada sektor minyak dan gas, sebagian pekerja menjalankan sistem kerja dari rumah (work from home/WFH). Sementara pekerja di bagian operasional bekerja dengan sistem giliran selama 12 jam.
"Mereka juga mendapat pelatihan prosedur keselamatan untuk menghadapi kemungkinan situasi darurat," ujarnya. KBRI Kuwait terus memantau kondisi para PMI yang bekerja di sektor manufaktur maupun rumah tangga.
Pemantauan dilakukan melalui berbagai jaringan komunitas. Termasuk PCINU, Muslimat NU, Fatayat NU, serta Garda BMI.
Dalam kesempatan itu, KBRI mengimbau seluruh WNI di Kuwait yang belum melaporkan diri agar segera mengisi formulir pendataan yang telah disebarluaskan. Imbauan tersebut juga berlaku bagi PMI yang masa berlaku paspornya telah habis atau yang belum memiliki dokumen resmi.
“Kami sampaikan bahwa keberadaan kantor perwakilan RI adalah untuk memberikan pelayanan dan perlindungan, bukan untuk mempersulit. Kami akan hadir sepenuhnya untuk memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi WNI di Kuwait,” ujar Lena.
KBRI juga meminta perusahaan atau majikan yang masih menahan paspor PMI agar segera menyerahkannya kepada pemiliknya. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi apabila terjadi keadaan darurat yang memerlukan proses evakuasi.
KBRI memastikan akan terus memantau perkembangan situasi di Kuwait. Serta memberikan perlindungan maksimal bagi seluruh warga negara Indonesia yang berada di negara tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....