Menyusul Konflik di Iran, Maersk Berhentikan Seluruh Pelayaran di Selat Hormuz

  • 03 Mar 2026 11:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Perusahaan peti kemas, Maersk, memutuskan menghentikan seluruh pelayaran kapal melalui Selat Hormuz. Hal ini menyusul meningkatnya konflik yang melibatkan Iran baru-baru ini.

"Akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah dan penutupan selat Hormuz, kapal-kapal saat ini tidak dapat melintasi kawasan tersebut dengan aman. Akibatnya, jalannya layanan di koridor-koridor Timur Tengah terganggu secara signifikan," kata Maersk dalam keterangannya resminya dikutip Selasa, 3 Maret 2026.

Selat Hormuz sendiri ditutup oleh Garda Revolusi Iran pada Sabtu, dampak dari serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Serangan tersebut menyebabkan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan meninggal.

Eskalasi konflik membuat sejumlah pihak mengambil langkah drastis. Salah satunya penutupan selat Hormuz sebagai respon dari serangan.

Perusahaan asal Denmark tersebut menyatakan penghentian pelayaran dilakukan demi keselamatan awak kapal, muatan, serta armada mereka. Dalam pernyataan resminya, Maersk menegaskan pihaknya menangguhkan semua pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut.

"Kami telah memutuskan untuk menghentikan sementara pelayaran Trans-Suez di masa mendatang melalui Selat Bab el-Mandeb untuk sementara waktu," katanya.

Maersk dikabarkan akan mengalihkan rute pelayarannya melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika yang jaraknya ribuan mil lebih jauh. Perusahaan itu juga menyebut akan menutup kantornya di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Oman.

Keputusan Maersk bukan hanya soal satu perusahaan, melainkan sinyal gangguan besar pada perdagangan global. Banyak perusahaan pelayaran lain ikut menunda pelayaran atau mengubah rute karena risiko keamanan yang sama.

Karena skala operasinya yang sangat besar, keputusan Maersk sering dianggap sebagai indikator kondisi perdagangan global. Ketika perusahaan ini menghentikan rute tertentu, dampaknya bisa langsung terasa pada perekonomian dunia.

Sebagian besar barang yang digunakan sehari-hari mulai dari bahan bakar hingga produk konsumsi bergantung pada pengiriman laut. Bahkan, diketahui sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia, termasuk dari produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran, melewati Selat Hormuz.

Misalnya kapal tanker minyak hanya sementara diblokir dari Selat Hormuz, hal itu tetap dapat menimbulkan dampak signifikan. Harga energi global bisa berubah, biaya pengiriman naik tajam, hingga keterlambatan distribusi pasokan.

Namun Maersk menyatakan bahwa perusahaan tersebut sedang berkoordinasi dengan mitra keamanan di semua operasi di Laut Merah dan Teluk Aden. Mereka mencoba memastikan penerimaan kargo di Timur Tengah tetap terbuka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....