Proses Ratifikasi FTA EEU-Indonesia di Rusia Diperkirakan Memakan Waktu Lama
- 27 Feb 2026 02:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Parlemen Rusia memulai proses ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (UEE). Kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, Kamis, 26 Februari 2026 di Jakarta.
Adapun Indonesia dan UEE resmi menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA), Minggu, 21 Desember 2025, di Saint Petersburg, Rusia. Penandatanganannya dilakukan di sela-sela pertemuan Dewan Ekonomi Eurasia Tertinggi.
Sergei mengungkapkan, proses ratifikasi tersebut diperkirakan akan memakan waktu lama antara 6 hingga 8 bulan. Sebab, menurutnya proses itu harus melalui persetujuan parlemen Rusia yang terdiri atas majelis rendah dan majelis tinggi.
“Pertama-tama harus diadopsi oleh majelis rendah, kemudian akan diteruskan ke Dewan Federasi, majelis tinggi, dan kemudian presiden akan menandatanganinya. Jadi, saya selalu optimis, jadi saya berharap tahun ini, tetapi mungkin, saya tidak tahu, enam, delapan bulan, kami akan menyelesaikannya,” ujarnya memaparkan saat press briefing.
Meski demikian, Sergei menyebut penyelesaian ratifikasi juga bergantung kepada empat negara anggota UEE lainnya. Namun, piihaknya optimistis penyelesaian ratifikasi dapat rampung sebelum 2026 berakhir.
“Ini adalah Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia, yang terdiri dari lima negara, jadi itu juga bergantung pada empat mitra lainnya dari Rusia dan EEU. Jadi, saya berharap akan berjalan lancar di negara ini,” kata Dubes Sergei.
Adapun Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (UEE) resmi menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA), Minggu, 21 Desember 2025, di Saint Petersburg, Rusia. Penandatanganannya dilakukan di sela-sela pertemuan Dewan Ekonomi Eurasia Tertinggi.
“Sebagai bagian dari rezim perdagangan baru yang sedang dibentuk, pihak Indonesia telah membuka akses preferensial untuk 90 persen dari berbagai produk. Konsesi Uni mencakup 90,5 persen dari nomenklatur komoditas mitra,” kata Andrey.
Slepnev, Menteri yang bertanggung jawab atas Perdagangan di Komisi Ekonomi Eurasia (EEC).
Andrey menjelaskan cakupan ekspor preferensial untuk kawasan dalam hal nilai akan mencakup lebih dari 94 persen dari ekspor saat ini.
Kemudian, tarif rata-rata yang diterapkan Indonesia untuk barang-barang UEE akan turun lima kali lipat dari 10,2 persen menjadi 2 persen. Menurut Andrey, Indonesia juga akan dapat meningkatkan pasokan berbagai macam barang konsumsi.
Ini termasuk komponen otomotif, produk elektronik (peralatan rumah tangga), dan beberapa jenis pakaian dan alas kaki. Hal ini mencakup penyederhanaan prosedur di bidang standar teknis dan peraturan sanitasi, administrasi bea cukai, dan aturan untuk menentukan asal barang.
Serta, pembentukan kerangka hukum untuk penerapan berbagai macam alat kerja sama industri di bidang pembangunan ekonomi yang menentukan masa depan perekonomian negara-negara peserta.
Sementara, dokumen FTA ditandatangani oleh Wakil Perdana Menteri (PM) Armenia, Wakil PM Belarus, Wakil PM sekaligus Menteri Perekonomian Kazakhstan.
Wakil Ketua Pertama Kabinet Menteri Kirgistan, Wakil Ketua Pemerintah Federasi Rusia, Ketua Dewan Komisi Ekonomi Eurasia, dan Mendag RI, Budi Santoso.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....