Serangan Rusia Lumpuhkan Energi Ukraina saat Musim Dingin

  • 04 Feb 2026 15:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Kyiv — Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Ukraina dengan jumlah rudal balistik terbanyak sejak awal tahun. Serangan tersebut menargetkan sektor energi di tengah suhu ekstrem yang mencapai minus 20 derajat Celsius.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy  menyatakan serangan gabungan rudal dan drone menghantam pembangkit listrik serta infrastruktur vital. Serangan tersebut terjadi di Kyiv dan sejumlah wilayah lain di Ukraina, dilansir dari BBC News, Rabu, 4 Februari 2026.

Akibatnya, lebih dari 1.000 gedung apartemen di ibu kota kehilangan pasokan pemanas. Selain itu, sebuah pembangkit listrik di Kharkiv dilaporkan rusak parah hingga tidak dapat diperbaiki.

Perusahaan energi swasta DTEK menyebut serangan ini sebagai pukulan terkuat sepanjang tahun. Serangan tersebut juga memperparah kondisi sistem energi yang sudah rapuh akibat serangan berulang.

Serangan itu terjadi setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata energi yang sebelumnya disepakati oleh Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Volodymyr Zelenskyy  menilai Rusia justru memanfaatkan masa gencatan senjata tersebut untuk menimbun persenjataan.

Menurut laporan militer Ukraina, serangan dimulai tak lama setelah tengah malam dan berlangsung lebih dari tujuh jam. Serangan tersebut memaksa warga berlindung di stasiun metro, bahkan mendirikan tenda di peron untuk menghadapi cuaca dingin ekstrem.

Zelensky mengungkapkan Rusia menembakkan lebih dari 70 rudal balistik dan jelajah serta sekitar 450 drone. Sementara itu, Angkatan Udara Ukraina hanya mampu mencegat 38 rudal karena keterbatasan sistem pertahanan udara.

Kekurangan rudal Patriot buatan Amerika Serikat disebut menjadi salah satu kendala utama dalam melindungi wilayah udara Ukraina. Serangan ini juga bertepatan dengan kunjungan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte ke Kyiv untuk bertemu Zelenskyy.

Ia menyerukan negara-negara anggota NATO mengeruk stok persenjataan mereka dan segera mengirimkan lebih banyak sistem pertahanan udara ke Ukraina. Ia menegaskan NATO akan terus berdiri di sisi Ukraina, termasuk memberikan dukungan militer untuk memperkuat posisi Kyiv.

Beberapa fasilitas yang diserang diketahui hanya berfungsi menyediakan pemanas bagi warga sipil. Penargetan fasilitas tersebut dinilai berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....