Tari Kontemporer Tsunami Aceh Tampil di Festival Sydney

  • 31 Jan 2026 21:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Sydney - 2026 menandai 50 tahun perjalanan Sydney Festival sebagai salah satu festival seni paling bergengsi di Australia. Dalam momentum bersejarah ini, kisah dari Indonesia hadir di panggung internasional.

Melalui “Sisa-Sisa”, sebuah pertunjukan tari kontemporer karya dua seniman berdarah Indonesia, Murtala dan Alfira O’Sullivan. Menghadirkan dua karya solo yang berangkat dari pengalaman personal dan ingatan kolektif.

“Sisa-Sisa” menjadi refleksi artistik tentang trauma, kehilangan, migrasi, serta ketahanan manusia. Karya Gelumbang Raya menelusuri kembali pengalaman Murtala sebagai relawan pasca Tsunami Aceh 2004, sebuah perjalanan batin yang merekam duka, trauma, dan keteguhan untuk terus bertahan.

Sementara itu, Jejak & Bisik karya Alfira O’Sullivan mengeksplorasi tubuh perempuan melalui tema fertilitas, perimenopause, keibuan, dan penuaan. Tarian ini diolah menjadi refleksi mendalam tentang siklus kehidupan dan identitas.

Pertunjukan ini semakin kuat dengan komposisi musik orisinal karya Gondrong Gunarto. Menghadirkan lanskap bunyi sebagai elemen penting dalam membangun suasana reflektif dan emosional sepanjang pementasan.

Berangkat dari pengalaman hidup yang autentik, “Sisa-Sisa” menghadirkan kehangatan di tengah kisah trauma, membuka ruang empati antara seniman dan penonton lintas budaya. Pendekatan ini menjadikan pertunjukan tersebut relevan dan bermakna bagi audiens Australia, sekaligus memperkuat dialog budaya melalui seni pertunjukan.

“Pertunjukan ini terasa sangat powerful karena berangkat dari pengalaman yang nyata dan sangat relatable. Vibe kehangatan terasa di sela-sela penampilan, dan karya ini dengan indah membawa budaya kontemporer Indonesia ke hadapan audiens di Australia,” ujar Wiwid Howat (35 tahun), salah satu penonton yang mengapresiasi kekuatan artistik Sisa-Sisa.

Resonansi pertunjukan ini juga dirasakan oleh audiens internasional lainnya. Carol (41 tahun), seorang penonton yang tinggal di Australia, menggambarkan Sisa-Sisa sebagai pengalaman yang kuat, intim, dan menyentuh secara emosional.

“Pertunjukan ini sangat kuat dan menyentuh. Perpaduan musik dan ritmenya terasa menenangkan,” kata Carol.

Konsul Jenderal RI di Sydney, Pendekar Muda Leonard Sondakh, menyampaikan apresiasi terhadap karya “Sisa-Sisa”. Bagi Pendekar, tari kontemporer itu sebagai representasi kualitas dan kedalaman ekspresi seniman Indonesia.

“Sisa-Sisa merupakan karya membanggakan, yang menunjukkan bagaimana seniman Indonesia mampu menghadirkan pengalaman personal dan memori kolektif. Kemudian, menjadi bahasa seni yang kuat dan relevan bagi audiens global, inilah bentuk diplomasi budaya yang hidup, humanis, dan menjembatani dialog antarbangsa,” kata Konjen RI.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....