‘Sisa-Sisa’ Menggemakan Memori Aceh di Sydney Festival 2026
- 28 Jan 2026 16:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Sydney - Perayaan setengah abad Sydney Festival pada 2026 menjadi panggung pertemuan kisah-kisah kemanusiaan lintas negara. Dalam edisi istimewa ini, Indonesia hadir lewat ‘Sisa-Sisa’, pertunjukan tari kontemporer yang digarap dua seniman keturunan Indonesia, Murtala dan Alfira O’Sullivan.
Mengusung narasi yang lahir dari pengalaman personal sekaligus ingatan kolektif, ‘Sisa-Sisa’ merangkai dua karya solo. Karya itu menyoal trauma, kehilangan, perpindahan, serta daya lenting manusia dalam menghadapi kehidupan.
Melalui ‘Gelumbang Raya’, Murtala mengajak penonton menyelami kembali pengalamannya sebagai relawan pasca Tsunami Aceh 2004. Karya ini menjadi ruang kontemplasi atas duka, luka batin, dan keteguhan untuk terus bertahan di tengah kehancuran.
Sementara Alfira O’Sullivan menghadirkan ‘Jejak & Bisik’. Itu adalah eksplorasi tubuh perempuan yang menyentuh tema fertilitas, perimenopause, keibuan, hingga penuaan, sebagai refleksi tentang identitas dan siklus hidup.
Dimensi emosional pertunjukan diperkuat oleh komposisi musik orisinal karya Gondrong Gunarto. Lanskap bunyi yang dihadirkannya berfungsi sebagai penopang suasana, membangun ruang reflektif yang menyatu dengan gerak tubuh para penari.
Berangkat dari kisah hidup yang jujur dan autentik, ‘Sisa-Sisa’ tidak hanya mengangkat trauma, tetapi juga menghadirkan kehangatan yang membuka ruang empati antara seniman dan penonton. Pendekatan ini membuat karya tersebut terasa dekat bagi audiens Australia.
“Pertunjukan ini terasa sangat kuat karena berangkat dari pengalaman nyata dan mudah dirasakan. Ada kehangatan di sela-sela penampilan, dan karya ini dengan indah membawa budaya kontemporer Indonesia ke hadapan audiens Australia,” ujar Wiwid Howat (35 tahun), salah satu penonton.
Respon serupa juga datang dari Carol (41 tahun), penonton asal Australia, yang menggambarkan ‘Sisa-Sisa’ sebagai pengalaman yang intim dan emosional. “Pertunjukan ini sangat menyentuh. Perpaduan musik dan ritmenya terasa menenangkan,” katanya.
Carol, yang sebelumnya pernah mengunjungi Indonesia, mengapresiasi bagaimana pertunjukan ini merefleksikan kekayaan ekspresi budaya Indonesia, mulai seni, musik, hingga nilai kekeluargaan. ‘Sisa-Sisa’ menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan seni kontemporer Indonesia.
Partisipasi ‘Sisa-Sisa’ dalam Sydney Festival 2026 juga mendapat apresiasi dari Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney, Pendekar Muda Leonard Sondakh. Ia menilai karya tersebut sebagai cerminan kualitas dan kedalaman ekspresi seniman Indonesia di panggung global.
“‘Sisa-Sisa’ adalah karya yang membanggakan. Ia menunjukkan bagaimana pengalaman personal dan memori kolektif dapat diterjemahkan menjadi bahasa seni yang kuat dan relevan bagi audiens dunia,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....