Menelusuri Auschwitz Birkenau, Jejak Sejarah Tragedi Holocaust

  • 26 Jan 2026 15:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Auschwitz telah menjadi simbol universal bagi horor, teror, dan genosida. Kamp ini didirikan oleh Nazi pada tahun 1940 di pinggiran kota Oswiecim, Polandia.

Pada awalnya, wilayah ini dianeksasi ke dalam Third Reich. Kemudian, Namanya diubah menjadi Auschwitz.

Auschwitz pada mulanya dibangun untuk mengatasi lonjakan tahanan politik asal Polandia yang tidak lagi tertampung di penjara lokal. Transportasi pertama pun tiba dari penjara Tarnów pada 14 Juni 1940.

Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi kamp ini berevolusi secara mengerikan. Pada 1942, Auschwitz berkembang menjadi pusat pemusnahan etnis Yahudi di Eropa dalam skema "Endlösung der Judenfrage’ (Solusi Akhir untuk Masalah Yahudi).

Kompleks Auschwitz sendiri bukanlah satu kamp tunggal. Melainkan sebuah jaringan luas yang terbagi menjadi tiga bagian utama.

Auschwitz I (Kamp Utama) merupakan bagian tertua yang didirikan di atas barak militer Polandia sebelum perang. Kamp ini menampung sekitar 15-20 ribu tahanan dan berfungsi sebagai pusat administrasi.

Auschwitz II (Birkenau) dibangun mulai tahun 1941 di desa Brzezinka setelah penduduk lokal diusir paksa. Ini adalah bagian terbesar dari kompleks Auschwitz yang menampung lebih dari 90.000 tahanan pada tahun 1944.

Auschwitz II menjadi tempat pemusnahan massal. Termasuk kamar gas dan krematorium yang dioperasikan.

Auschwitz III (Buna-Monowitz) terdiri dari lebih dari 40 sub-kamp yang mengeksploitasi tahanan sebagai pekerja paksa. Bagian terbesarnya, Buna (Monowitz), didirikan untuk menyuplai tenaga kerja pabrik karet sintetis dan bahan bakar perusahaan Jerman, IG Farbenindustrie.

Interessengebiet (Zona Isolasi Total) digunakan bagi pihak SS (Schutzstaffel) untuk memberlakukan isolasi total. Mereka menetapkan area seluas 40 kilometer persegi di sekitar kamp yang disebut sebagai ‘Interessengebiet’ (Zona Kepentingan).

Dalam periode 1940-1941, ribuan warga lokal Polandia dan Yahudi yang tinggal di sekitar lokasi diusir dari rumah mereka. Sekitar seribu bangunan dihancurkan, sementara rumah-rumah lainnya dialihfungsikan menjadi kediaman bagi perwira SS dan keluarga mereka.

Kini, sisa-sisa kawat berduri dan reruntuhan barak di Auschwitz-Birkenau tetap berdiri sebagai saksi bisu sejarah. Museum ini mengingatkan dunia akan betapa terorganisirnya sebuah sistem kebencian saat itu.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....