Mengenal Olahraga Ekstrem BASE Jumping

  • 10 Jan 2025 16:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Seorang atlet terjun payung dari Prancis bernama Frederick Fugen melakukan BASE Jumping dari gedung tertinggi di Indonesia, Kamis (9/1/2025). Base Jumping adalah olahraga ekstrem yang melibatkan lompatan dari objek diam seperti bangunan, antena, jembatan, atau tebing.

Melansir dari laman resmi Wisconsin Sky Diving Center, olahraga ekstrem ini menggunakan parasut untuk mendarat. Akronim "BASE" sendiri merujuk pada Building (bangunan), Antenna (antena), Span (jembatan), dan Earth (tebing).

Dalam praktiknya, beberapa BASE jumpers memilih melakukan free BASE jumping, yaitu mendaki objek tinggi secara solo sebelum melompat. Meskipun menarik, olahraga ini sering mendapatkan larangan dengan alasan keamanan dan gangguan di area padat penduduk.

Olahraga ini berbeda dengan skydiving dalam beberapa aspek, termasuk peralatan, ketinggian lompatan, dan area pendaratan. Skydiving menggunakan dua parasut, termasuk cadangan, yang diatur oleh Federal Aviation Administration (FAA).

Sementara itu, BASE jumping hanya menggunakan satu parasut karena waktu yang singkat antara lompatan dan tanah. Skydiving biasanya dilakukan dari ketinggian 8.000–14.000 kaki, sedangkan BASE jumping dilakukan dari ketinggian 300–1.000 kaki.

Area pendaratan BASE jumping sering kali lebih berbahaya dibandingkan skydiving. Hal ini dikarenakan BASE jumping melibatkan medan berbatu, jalanan, atau area dengan rintangan seperti kabel listrik.

Risiko tinggi ini membuat tingkat kematian BASE jumping mencapai 1 dari 2.300 lompatan, jauh lebih tinggi dibandingkan skydiving. Selain lebih berbahaya, BASE jumping juga memerlukan komitmen besar dari segi waktu, biaya, dan pelatihan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....