Desakan Putra Nababan, Kemenperin Sepakati Target Utilisasi Industri 70%

  • 27 Jan 2026 09:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) didesak berani mematok angka pasti terkait target utilisasi industri nasional pada tahun 2026. Desakan ini disambut positif oleh Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, yang akhirnya menyepakati angka "psikologis" sebesar 70 persen.

“Saudara menteri, tahun lalu utilisasi industri pengolahan nonmigas hanya 61,89%, di bawah angka psikologi yakni 70%. Kami bisa menduga, banyak mesin-mesin di pabrik yang tidak digunakan untuk berproduksi," kata Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan Putra saat melakukan pendalaman dalam rapat kerja yang dihadiri Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasosmita di DPR, Senin, 26 Januari 2026.

"Buat kami, ini seperti ‘lampu kuning’. Lampu kuning untuk industri nasional kita."

m

Putra kemudian menekankan penetapan target sangat krusial sebagai acuan kerja kementerian. Terutama untuk menahan laju impor yang berlebihan dan memastikan mesin-mesin produksi dalam negeri kembali beroperasi.

"Saya justru meminta Saudara Menteri untuk bisa menetapkan target utilisasi untuk 2026 meskipun variabelnya banyak. Kalau punya target, artinya ada yang mau dicapai, termasuk bagaimana mengunci keran-keran impor supaya mesin-mesin produksi kita bergerak," kata anggota Fraksi PDI Perjuangan ini.

Menanggapi desakan tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita langsung menyatakan persetujuannya. Ia mengakui angka 70 persen adalah target ideal yang juga diinginkan pemerintah, dengan catatan adanya dukungan lintas sektoral.

"70 persen sangat sepakat sekali, memang itu angka psikologis. Kita menginginkan number 70, kalau boleh minta (dicatat) didukung oleh Kementerian/Lembaga lain," ujat Menperin.

Atas interaksi tersebut, pimpinan rapat akhirnya mengetok palu kesepakatan bahwa Komisi VII dan Kemenperin sepakat meningkatkan target utilisasi industri Tahun Anggaran 2026. Yakni sebesar 70 persen dengan dukungan Kementerian dan Lembaga terkait lainnya.

Awalnya, Putra Nababan memberikan catatan kritis terhadap evaluasi kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2025. Evaluasi dilayangkan karena realisasi investasi melonjak tinggi namun utilitas produksi justru berada di tingkat yang mengkhawatirkan.

Data realisasi investasi tahun 2025 mencapai Rp552 triliun, namun rata-rata utilisasi industri hanya tercatat di angka 61,89%. Menurut Putra, angka tersebut adalah sinyal bahaya bagi perekonomian nasional.

Ia menilai tingginya "Output Gap" ini menciptakan inefisiensi biaya yang tinggi bagi pelaku industri. Ia menduga hal ini disebabkan oleh membanjirnya produk impor yang menyebabkan daya beli terhadap produk domestik melemah. 


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....