Perkuat Ekonomi, Kemdiktisaintek Dorong Industrialisasi Berbasis Sains Teknolo

  • 05 Mar 2026 18:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat peran perguruan tinggi serta ekosistem riset nasional untuk mendorong transformasi industri di Indonesia. Langkah ini dinilai penting agar hasil riset tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi mampu mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Penguatan kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan lembaga kebijakan menjadi strategi utama dalam mempercepat hilirisasi riset. Integrasi antara sains, teknologi, dan kebutuhan pasar diharapkan dapat menciptakan industri baru yang kompetitif sekaligus berkelanjutan.

"Kita harus berani menguji dan mendorong kemajuan yang tidak linear melalui penguatan industri berbasis sains dan teknologi. Industrialisasi tidak boleh berjalan biasa saja, karena potensinya bisa tumbuh secara eksponensial," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Kamis, 5 Maret 2026.

Menurut Brian, industrialisasi yang berbasis pada sains dan teknologi merupakan kunci strategis bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Tanpa lompatan inovasi, pertumbuhan industri dikhawatirkan akan berjalan stagnan dan sulit bersaing di tingkat global.

Ia menegaskan bahwa transformasi ekonomi membutuhkan pendekatan yang berani serta inovatif. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan industri perlu diarahkan pada penguatan riset, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia.

"Jika kita ingin benar-benar lepas dari berbagai keterbatasan struktural. Maka lompatan yang kita lakukan juga harus bersifat tidak linear," ujar Brian.

Menteri Brian juga menyoroti tantangan klasik dalam ekosistem riset nasional yang dikenal sebagai valley of death. Istilah ini menggambarkan kesenjangan antara hasil riset di perguruan tinggi dengan tahap komersialisasi di sektor industri.

Ia menilai masih banyak produk riset yang belum mampu bertahan hingga memasuki tahap industrialisasi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperhitungkan aspek keekonomian sejak tahap awal pengembangan inovasi.

Menurutnya, kajian ekonomi tidak seharusnya dilakukan setelah produk selesai dikembangkan, melainkan sejak proses penelitian dimulai. Dengan demikian, hasil riset memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan menjadi produk industri yang bernilai ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida Budiman menyampaikan bahwa Bank Indonesia Institute memiliki peran penting dalam mendukung riset yang relevan dengan kebijakan ekonomi nasional. Ia mengatakan lembaganya membuka peluang kolaborasi riset dengan berbagai pihak, termasuk Kemdiktisaintek, guna memperkuat basis kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

"Kami memiliki berbagai peluang riset. Baik yang dilakukan bersama Kemdiktisaintek maupun riset tren, yang dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi kebijakan dan inovasi ekonomi," ucapnya.

Kolaborasi antara Kemdiktisaintek dan BI Institute diharapkan mampu memperkuat relevansi riset nasional terhadap kebutuhan pembangunan ekonomi. Sinergi lintas sektor juga diyakini dapat mempercepat proses hilirisasi inovasi di berbagai bidang strategis.

Selain itu, pemerintah juga berupaya mendorong terciptanya mekanisme yang dapat menarik partisipasi industri dalam mendanai serta memanfaatkan hasil riset perguruan tinggi. Melalui kolaborasi strategis antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri, Kemdiktisaintek optimistis sains dan teknologi Indonesia dapat menjadi motor utama transformasi ekonomi nasional di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....