Ancaman Child Grooming, BKKBN Gelar Kelas Orang Tua Bersahaja
- 30 Jan 2026 13:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, JAKARTA - Praktik child grooming menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan mental anak serta remaja. Ancaman ini meningkat seiring meluasnya interaksi digital dan melemahnya fungsi perlindungan keluarga.
Child grooming kerap berlangsung tersembunyi melalui pendekatan emosional dan relasi semu dengan korban. Modus tersebut sering sulit dikenali sejak dini, bahkan di lingkungan yang dianggap aman.
Rumah, sekolah, dan komunitas sosial tidak selalu terbebas dari risiko praktik ini. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahaya child grooming.
Ia menyebut child grooming sebagai bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja. “Child grooming merupakan proses manipulasi dengan tujuan mengeksploitasi anak dan remaja,” ujar Isyana.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Kelas Orang Tua Bersahaja Angkatan 3 secara daring. Kegiatan itu dilaksanakan pada Rabu, 28 Januari 2026.
Kerentanan meningkat ketika komunikasi emosional dalam keluarga tidak terbangun secara optimal. Data Susenas BPS 2022 mencatat jumlah pemuda Indonesia mencapai 65,82 juta jiwa.
Angka tersebut setara dengan 24 persen dari total penduduk Indonesia. Kelompok usia muda berada pada fase krusial pembentukan karakter dan identitas diri.
Mereka membutuhkan dukungan dan pendampingan konsisten dari lingkungan terdekat. Keluarga memiliki peran utama dalam menjaga kesehatan mental remaja.
Minimnya dialog terbuka berpotensi melemahkan fungsi keluarga sebagai ruang aman. Kondisi ini membuka celah bagi pihak yang memanfaatkan kebutuhan emosional anak.
Perhatian, penerimaan, dan rasa aman sering dijadikan alat manipulasi pelaku. “Isu ini menyentuh ketahanan keluarga dan masa depan anak-anak kita,” kata Isyana.
Tingginya penetrasi internet membuat remaja semakin aktif di ruang daring. Interaksi digital sering berlangsung tanpa pengawasan langsung dari orang tua.
Child grooming tidak hanya terkait gawai, tetapi juga manipulasi emosi dan kepercayaan. Pelaku membangun kedekatan emosional secara bertahap dengan korban.
Korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Psikolog Ferlita Sari menegaskan dampak child grooming bersifat jangka panjang.
Menurutnya, praktik tersebut meninggalkan luka psikologis mendalam bagi korban. “Dampaknya tidak berhenti saat kejadian, tetapi menetap karena bersifat traumatik,” ujar Ferlita.
Sebagai respons, Kemendukbangga/BKKBN membuka Kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja Angkatan 3. Program ini digelar pada tahun 2026 secara daring.
Tema yang diangkat adalah “Bagaimana Bila Child Grooming Ada di Sekitar Kita?”. Program dirancang sebagai ruang pembelajaran yang aman dan berbasis keilmuan.
Kegiatan ini mendorong partisipasi aktif orang tua dalam pencegahan kekerasan anak. Tujuannya meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas orang tua sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....