Butuh Kolaborasi untuk Mengatasi Krisis Ekologis Tahura Muria
- 20 Nov 2025 11:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Kudus: Gunung Muria di Jawa Tengah mungkin terlihat megah dari kejauhan, namun di balik hijaunya lereng tersimpan cerita kerusakan ekologis yang kian mendalam. Tutupan hutan yang menyusut, fungsi hidrologi yang melemah, serta berkurangnya habitat satwa dilindungi seperti macan tutul jawa dan elang jawa. Di tengah situasi ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya melakukan penyelamatan ekosistem melalui kajian Tim Terpadu Gunung Muria lintas kementerian.
Prof. Hendra Gunawan, Peneliti Ahli Utama konservasi keanekaragaman hayati BRIN mengungkap hasil temuan tim terpadu yang dipimpinnya dalam wawancara khusus di KST Soekarno, Cibinong, Kab. Bogor, 19 November 2025.
“Harapan masyarakat Jawa Tengah, khususnya di kawasan Muria untuk memiliki Taman Hutan Raya (TAHURA) sebagai benteng konservasi dan pusat ekonomi hijau, akan segera terwujud. Impian yang digaungkan sejak lama itu segera diverifikasi dan divalidasi Tim Terpadu Kementerian Kehutanan dan BRIN yang turun ke lapangan sejak 10 November 2025,” tutur Hendra mengawali wawancara.
Ia menjelaskan tim ini bertugas melakukan verifikasi dan validasi ilmiah terhadap usulan perubahan fungsi ±10.436 ha kawasan hutan di Jepara, Kudus, dan Pati menjadi Taman Hutan Raya (TAHURA).
Perubahan status ini menurutnya menjadi langkah strategis untuk menghentikan laju deforestasi, memulihkan fungsi hidrologi, dan meredam konflik manusia dan satwa liar, khususnya terkait macan tutul jawa (Panthera pardus melas).
“Data satelit tahun 2024 menunjukkan hanya 7.287 ha tutupan hutan asli yang tersisa di kawasan Muria. Sisanya telah terdegradasi menjadi semak belukar dan lahan pertanian,” ungkapnya. Kerusakan ini menurutnya berpengaruh langsung terhadap tujuh sub DAS prioritas, memicu krisis air bersih di musim kemarau dan banjir bandang pada musim hujan.
Lebih jauh Hendra menjelaskan, tekanan ekologis juga mengancam keberlangsungan macan tutul jawa. “Penelitian kami menunjukkan 94% kepunahan lokal spesies tersebut terjadi di hutan produksi, dengan populasi tersisa pada beberapa kantong habitat yang semakin terfragmentasi. Gunung Muria menjadi salah satu benteng terakhirnya,” ungkap Hendra yang sudah meneliti masalah ini lebih dari 35 tahun.
Dirinya meyakini, melalui pendekatan TAHURA pemulihan ekologis dipadukan dengan skema pemberdayaan masyarakat, seperti ekowisata, kemitraan konservasi, dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan sebagai hasil kajian tim terpadu ini diharapkan menjadi dasar rekomendasi kebijakan nasional dalam upaya menjaga keberlanjutan ekosistem Muria.
“Muria bukan hanya hutan, bukan pula sekadar gunung. Ia adalah simpul kehidupan yang mempengaruhi air, pangan, ekonomi, dan kelestarian satwa Jawa Tengah. Penilaian tim terpadu akan menjadi penentu, apakah Muria akan bangkit sebagai contoh harmoni ekologis dan ekonomi hijau, atau terperosok lebih dalam ke krisis yang berkepanjangan,” pungkasnya.
Kini, nasib Muria berada di tangan Tim Terpadu yang dipimpin BRIN. Hasil kajian mereka akan menjadi dasar rekomendasi untuk menentukan apakah kawasan ini akan benar-benar menjadi TAHURA. Jika terwujud, Muria tidak hanya akan dipulihkan namun ia akan menjadi model nasional tentang bagaimana riset, kebijakan, dan masyarakat dapat berjalan bersama untuk menyelamatkan habitat satwa kunci Pulau Jawa. (ugi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....